Selasa, 24 April 2012

Yuk Jadi Pengusaha , Oleh Sandiaga S. Uno


SANDIAGAUNO 
Direktur Utama Saratoga Capital
Dalam satu tahun terakhir sering saya dengar atau temui anak-anak muda yang mulai mendapatkan penghasilan tambahan atau istilahnya "side job" dengan melakukan beragam hal yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya. Mulai menjadi penerjemah buku, laporan tahunan perusahaan atau product manual dari beragam brand terkenal. Selain itu juga ada yang menjadi graphic designer atau "konsultan" beragam kebutuhan perusahaan seperti disain, komunikasi, atau sebagai penyelenggara acara (event organiser).

Yang lebih mengesankan lagi semua itu dikerjakan dari mal, cafe, coffee shop atau internet cafe. Bahkan  rumah dan warnet pun semakin ditinggalkan sebagai tempat bekerja. Yang menjadi klien mulai dari keluarga, sahabat atau kerabat dekat.

Banyak dari anak-anak muda tersebut yang masih menyelesaikan kuliah. Tidak sedikit juga yang baru mulai bekerja di perusahaan-perusahaan konsultan asing bergengsi di Jakarta dan Surabaya.

Sangat dinamis, sangat penuh gairah dan sangat cerah masa depan dari anak-anak muda tersebut. Kombinasi antara working hard, working smart dan playing hard semakin bergeser dari tren musiman menjadi gaya hidup.

Kalau keadaan ini terus berlangsung bahkan terus ditingkatkan, dapat dipastikan bahwa prospek bisnis dan perekonomian Indonesia juga semakin cerah.

Fenomena ini membuktikan bahwa banyak bakat yang tidak lagi terpendam yang dimiliki oleh generasi muda Indonesia. Fenomena ini juga membuktikan bahwa generasi yang lebih tua atau setidaknya lebih senior semakin ?terbiasa? mempercayakan pekerjaan yang cukup penting kepada generasi muda yang minim namun haus pengalaman. Yang penting adalah keberanian untuk memulai dan mencoba serta komitmen yang tinggi terhadap kualitas dan tenggat waktu.

Bagi saya dan rekan-rekan pengusaha muda, fenomena ini sangat kami syukuri. Bukan apa-apa, mereka dapat benar-benar memenuhi beragam kebutuhan usaha yang tadinya hanya dilayani oleh konsultan asing yang harganya tidak murah dan hasilnya sering kali kurang memuaskan. Walaupun masih bersifat informal, kompetisi sudah mulai tampak bahkan meningkat di antara para ?side-jobers?.

Mungkin tidak lama lagi sebagian dari mereka akan mulai mendirikan perusahaannya sendiri dan perlahan-lahan menjadi sekumpulan pengusaha muda yang kreatif, haus pengalaman dan tentunya haus akan keberhasilan. Saat itu, harga mereka tidak akan semurah yang mereka tawarkan sekarang.

Tapi tidak apa-apa. Lebih ?sreg? rasanya membayar agak lebih mahal kepada sesama pengusaha nasional yang masih muda-muda, dibandingkan perusahaan besar, apalagi perusahan asing. Mari menjadi juara di negeri sendiri. Yuk jadi pengusaha!

ref : 
http://www.ciputraentrepreneurship.com

Sabtu, 07 April 2012

Bambang Suryanto, Kebangkrutan Jadi Motivasi Kesuksesan

 
Bambang Suryanto tipikal sosok pemilik usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang ulet dan disiplin. Bangkit dari kebangkrutan, sukses menumbuhkan bisnis seprei dan bed cover.
Suara mesin jahit dan kesibukan para karyawan menjadi pemandangan sehari-hari di rumah Bambang yang terletak di kawasan Perumahan Telaga Sakinah, Cibitung, Bekasi. "rumah saya adalah tempat usaha saya,” katanya.

Tak pelak, rumahnya penuh dengan kain-kain bahan pembuat seprei dan bed cover, termasuk barang yang sudah jadi dan siap dikirim ke pelanggan dan dipasarkan. Meski waktu masih begitu pagi, kesibukan karyawan Bambang yang berjumlah 20 orang begitu kentara. Di halaman depan rumahnya, terlihat karyawan perempuan tengah membuat pola bed cover. Masuk ke dalam, kesibukan semakin terlihat. Di ruang dapur yang disulap menjadi tempat pemotongan kain untuk seprei dan bed cover, beberapa karyawan laki-laki sibuk memainkan guntingnya memotong bagian kain menjadi bentuk yang siap diubah menjadi seprei atau bed cover.

”Karyawan saya sebagian besar adalah warga sekitar perumahan. Saya berusaha memberdayakan mereka,terutama ibu-ibu agar bisa menambah penghasilan keluarga,” terang Bambang.

Menurut Bambang, sejak dia terjun langsung menekuni usaha seprei dan bed cover, jumlah karyawannya terus meningkat. Dari awalnya hanya bisa dihitung dengan jari, kini mencapai 20 karyawan. Salah satu kunci sukses usaha yang dikembangkan Bambang adalah memperlakukan karyawan seperti keluarga sendiri. ”Segala kebutuhan mereka dari tidur dan makan kami tanggung. Sistem pembayarannya pun borongan. Siapa yang mengerjakan banyak dia akan dapat banyak. Itu untuk memotivasi mereka,”tuturnya. Bambang ingin, ke depannya semakin banyak karyawan yang mampu dia rekrut dari lingkungan sekitar.

Semakin banyak orang yang bekerja dengannya, Bambang mengaku semakin senang. ”Meski usaha saya belum seberapa, tapi kalau mampu menyediakan lapangan kerja bagi orang lain,rasanya kok senang,”ujarnya. Tapi, jangan dikira jalan ayah dua anak ini hingga menjadi seperti sekarang semulus yang dibayangkan. Asam garam kehidupan pernah dirasakan Bambang. Mantan pekerja di bidang tekstil ini bahkan sempat mengalami kebangkrutan.

Awalnya, suami dari Sutiah ini hanyalah karyawan biasa di industri pertekstilan. Belasan tahun dia mengabdi di perusahaan milik investor asal China, hingga suatu saat perusahaannya memilih hengkang dari Indonesia. ”Waktu itu saya ditawari untuk ikut ke China, tapi saya pikirpikir risikonya terlalu tinggi, sementara usia saya sudah 40 tahunan,” tutunya.

Singkat cerita, jalan PHK-lah yang ditempuh Bambang Mengalami PHK di usia yang tidak muda tentu menjadi pilihan sulit. Namun, justru pada saat terdesak itu mengantarkan Bambang semakin kreatif dan tertantang. Tak ingin berlama-lama berpangku tangan, dia pun memilih mencoba mendirikan usaha keramik. Bambang mengaku, selama menjalani usaha keramik, kerap mondar-mandir ke luar kota, seperti Yogyakarta dan Semarang, untuk mencari pasar dan bahan baku keramik. Usahanya memang sempat menyembulkan harapan. Beberapa order dan pesanan mulai datang. Bambang yang awalnya tak yakin dengan pilihannya, mengingat latar belakangnya di bidang pertekstilan, semakin mantap dengan usaha keramik yang dijalankannya.

Malah, nasihat sang istri agar Bambang menggeluti usaha yang sesuai bidangnya saja yakni pertekstilan sempat tak digubris. "Waktu itu saya sedang yakin usaha keramik saya bakal mulus,” katanya. Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Usaha keramik Bambang ternyata tak bertahan lama. Usahanya mengalami kehancuran. Bambang bangkrut. Modal yang sudah dikeluarkan pun raib. ”Saat itu saya benarbenar jatuh,” lirihnya.

Beruntung Bambang memiliki istri setegar dan sehebat Sutiah. Di saat suaminya dirundung masalah, Sutiah tetap mendampingi dengan sabar. Malah, Sutiah kembali menghembuskan ide untuk menerjuni usaha di bidang tekstil. Kebetulan, selama Bambang menjalankan bisnis keramik, Sutiah secara diam-diam mulai mengembangkan usaha pembuatan seprei dan bed cover. Jalan telah dibuka. Kali ini Bambang pun tak kuasa menolak ajakan sang istri. ”Pada 2005, setelah saya mengalami kebangkrutan, saya mulai secara total menerjuni bisnis ini,” paparnya.

Kini, setelah lima tahun berjalan, usaha Bambang tengah menemukan momentumnya. CV Surya Jamarindo dengan produk dagangnya ”Nice Sleep” semakin berkibar. Surya Jamarindo sendiri diambil dari nama belakang Bambang dan nama ayahnya. ”Supaya tetap mengingat jasa orangtua,” kata Bambang tentang nama perusahaannya itu. Produk seprei dan bed cover ”Nice Sleep” sekarang sudah merambah ke mana-mana. Dengan harga jual Rp 85.000 untuk seprei dan Rp 260.000 untuk bed cover berukuran 180 X 200 cm, produknya diterima dengan baik di masyarakat. ”Selain jual eceran, kami juga jual dalam partai besar,” terangnya.

Tak hanya memproduksi merek dagang sendiri, CV Surya Jamarindo juga menerima pesanan dari pihak luar, seperti seprei untuk hotel atau untuk pelanggan lain dengan merek dagang sendiri. Bambang menjamin, produk buatannya memiliki kualitas tinggi karena menggunakan bahan terbaik. ”Rata-rata adalah bahan katun,” ujarnya. Diferensiasi produk juga terus dilakukan Bambang. Tak hanya fokus dengan pembuatan seprei dan bed cover, Bambang juga melirik produk lain yang digemari di pasaran. CV Surya Jamarindo mengeluarkan produk-produk dengan istilah menggelitik seperti ”balmut” (bantal selimut), ”gulmut” (guling selimut), serta bantal cinta. Dalam pengembangan produk ini kata Bambang, peran sang istri begitu dominan.

Menurut Bambang, istrinyalah yang memiliki kepekaan terhadap pasar dan memiliki keterampilan membuat desain. "Urusan desain dan pasar,istri saya yang paling berperan,”katanya.

Produk-produk seperti ”balmut”, ”gulmut”, dan bantal cinta ternyata diterima pasar dengan baik, terutama anak muda. Biasanya anak-anak muda memanfaatkan produk itu sebagai teman dalam perjalanan atau sebagai pemanis di tempat tidur mereka. Kendati demikian, tantangan ke depan bukannya tidak ada,malah semakin berat. Terutama seiring masuknya produk serupa dari China. Dengan harga lebih murah, produk serupa dari China biasanya banyak diburu konsumen dalam negeri. Untuk menghadapi tantangan tersebut, Bambang yang mengaku omzetnya kini mencapai Rp 200 juta per bulan berusaha menaikkan produksinya agar bisa bersaing dengan produk China dan produk sejenis dari tanah Air.

Produksi seprei Bambang kini mencapai antara 6.000–8.000 set per bulan. Sedangkan untuk bed cover mencapai 2.000–3.000 set per bulan. Kapasitas produksi itu ingin dia naikkan menjadi 30.000 set per bulan, terutama untuk produk seprei. Bambang  yakin keinginannya menaikkan kapasitas produksi dapat terpenuhi mengingat dia sudah mendapat penawaran kerja sama dari dua perusahaan besar di kawasan Jakarta. ”Semakin besar usaha ini, semakin banyak pula lapangan kerja yang dapat kami sediakan," begitulah harapnya. (*/Koran Sindo)

sumber : 
http://www.ciputraentrepreneurship.com

Perjalanan AQUA Sukses Memanfaatkan Peluang Bisnis Usaha Air Putih


Kisah sukses ini berawal dari sosok Tirto Utomo yang menggagas berdirinya Aqua. Pria kelahiran Wonosobo, 9 Maret 1930 ini menggagas lahirnya industri air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia melalui PT Golden Mississippi pada tanggal 23 Pebruari 1973. Produk pertamanya saat itu adalah Aqua botol kaca 950 ml yang kemudian disusul kemasan AQUA 5 galon, pada waktu itu juga masih terbuat dari kaca.
Tirto Utomo, warga asli Wonosobo, mendirikan perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) karena ketika bekerja sebagai pegawai Pertamina di awal tahun 1970-an Tirto bertugas menjamu delegasi sebuah perusahaan Amerika Serikat. Namun jamuan itu terganggu ketika istri ketua delegasi mengalami diare yang disebabkan karena mengonsumsi air yang tidak bersih. Tirto kemudian mengetahui bahwa tamu-tamunya yang berasal dari negara Barat tidak terbiasa meminum air minum yang direbus, tetapi air yang telah disterilkan. 
Inisiatif bisnispun segera datang. Bersama saudara-saudaranya, Tirto mulai mempelajari cara memproses air minum dalam kemasan. Adiknya, Slamet Utomo diminta untuk magang di Polaris, sebuah perusahaan AMDK yang ketika itu telah beroperasi 16 tahun di Thailand. Tidak mengherankan bila pada awalnya produk Aqua menyerupai Polaris mulai dari bentuk botol kaca, merek mesin pengolahan air, sampai mesin pencuci botol serta pengisi air. 
Usai mengerti cara kerja pembuatan air minum dalam kemasan, Tirto men­dirikan pabrik pertamanya di Pondok Ungu, Bekasi, dan menamai pabrik itu Golden Missisippi dengan kapasitas produksi enam juta liter per tahun. Tirto sempat ragu dengan nama Golden Missisippi yang meskipun cocok dengan target pasarnya, ekspatriat, namun terdengar asing di telinga orang Indonesia. Konsultannya, Eulindra Lim, mengusulkan untuk menggunakan nama Aqua karena cocok terhadap imej air minum dalam botol serta tidak sulit untuk diucapkan. Tirto kemudian mengubah merek produknya dari Puritas menjadi Aqua. 
Dua tahun kemudian, produksi pertama Aqua diluncurkan dalam bentuk kemasan botol kaca ukuran 950 ml dengan harga jual Rp.75, hampir dua kali lipat harga bensin yang ketika itu bernilai Rp.46 untuk 1.000 ml.
Bermodal Keberanian 
Meskipun saat itu air mineral dalam kemasan belum ada di Indonesia, Tirto tetap yakin dengan langkahnya. Keluar dari tempat kerjanya yang mapan di Pertamina, pada 1982, Tirto mengganti bahan baku (air) yang semula berasal dari sumur bor ke mata air pegunungan yang mengalir sendiri (self-flowing spring) karena dianggap mengandung komposisi mineral alami yang kaya nutrisi seperti kalsium, magnesium, potasium, zat besi, dan sodium. 
Dengan bantuan Willy Sidharta, sales dan perakit mesin pabrik pertama Aqua, sistem distribusi Aqua bisa diperbaiki. Willy menciptakan konsep delivery door to door khusus yang menjadi cikal bakal sistem pengiriman langsung Aqua. Konsep pengiriman menggunakan kardus-kardus dan galon-galon menggunakan armada yang didesain khusus membuat penjualan Aqua Secara konsisten membaik. 
tahun 1974 sampai 1978 adalah masa-masa sulit bagi perusahaan ini. Apalagi permintaan konsumen masih sangat rendah. Masyarakat kala itu masih “asing” dengan air minum dalam kemasan. Apalagi harga 1 liter Aqua lebih mahal daripada harga 1 liter minyak tanah.
Tapi pemilik Aqua tidak menyerah. Dengan berbagai upaya dan kerja keras, akhirnya Aqua mulai diterima masyarakat luas. Bahkan tahun 1978, Aqua telah mencapai titik BEP. Dan saat itu menjadi batu loncatan kisah sukses Aqua yang terus berkembang pesat. 
Saat itu memang produk Aqua ditujukan untuk market kelas menengah ke atas, baik dalam rumah tangga, kantor-kantor dan restoran. Namun sejak tahun 1981, Aqua telah berganti kemasan dari semula kaca menjadi plastik sehingga melahirkan berbagai varian kemasan. Hal ini menyebabkan distribusi yang lebih mudah dan harga yang lebih terjangkau sehingga produk Aqua dapat dijangkau masyarakat dari berbagai kalangan. 
Dari sisi kemasan, Aqua juga menjadi pelopor. Botol plastiknya yang semula berbahan PVC yang tidak ramah lingkungan, sejak 1988 telah diganti menjadi bahan PET. Padahal saat itu di Eropa masih menggunakan bahan PVC. Selain itu desain botol Aqua berbentuk persegi bergaris yang mudah dipegang telah menggantikan desain botol bulat Eropa. Bahkan botol PET ciptaan Aqua ini telah dijadikan standar dunia.
Pada 1984, Pabrik AQUA kedua didirikan di Pandaan, Jawa Timur. Dan Pada 1995, Aqua menjadi pabrik air mineral pertama yang menerapkan sistem produksi in line di pabrik Mekarsari. Pemrosesan air dan pembuatan kemasan AQUA dilakukan bersamaan. Hasil sistem in-line ini adalah botol AQUA yang baru dibuat dapat segera diisi air bersih di ujung proses produksi, sehingga proses produksi menjadi lebih higienis.
Aqua juga sukses di  mancanegara. Sejak 1987, produk Aqua telah diekspor ke berbagai negara seperti Singapura, Malaysia, Fillipina, Australia, Maldives, Fuji, Timur Tengah dan Afrika. Berbagai prestasi dan penghargaan pun didapatkan baik dari dalam negeri maupun luar negeri. 
Pada tahun 1998, karena ketatnya persaingan dan munculnya pesaing-pesaing baru, Lisa Tirto sebagai pemilik Aqua Golden Mississipi sepeninggal ayahnya Tirto Utomo, menjual sahamnya kepada Danone pada 4 September 1998. Akusisi tersebut dianggap banyak pihak sebagai langkah tepat setelah beberapa cara pengembangan tidak cukup kuat menyelamatkan Aqua dari ancaman pesaing baru. 
Langkah ini berdampak pada peningkatan kualitas produk dan menempatkan AQUA sebagai produsen air mineral dalam kemasan (AMDK) yang terbesar di Indonesia. Pada tahun 2000, bertepatan dengan pergantian milenium, Aqua meluncurkan produk berlabel Danone-Aqua.
Almarhum Tirto Utomo pun dinobatkan sebagai pencetus air minum dalam kemasan dan masuk dalam “Hall of Fame” . Dan berdasarkan survey Zenith International, sebuah badan survey Inggris, Aqua dinobatkan sebagai merk air minum dalam kemasan terbesar di Asia Pasifik, dan air minum dalam kemasan nomor dua terbesar di dunia. Sebuah prestasi yang mungkin tidak pernah dikira-kira.■
Nekat Mendirikan Aqua
Tirto Utomo, kelahiran Wono­sobo, Jawa Tengah 8 Maret 1930, harus bersekolah Mage­lang yang berjarak sekitar 60 kilometer, ketika SMP, karena me­mang di Wonosobo belum ada SMP. Per­ja­lanan itu ditempuh dengan se­peda. 
Dibesarkan dari anak seorang pengusaha susu sapi an pedagang ternak, lulus SMP, Tirto Utomo melanjutkan sekolah ke HBS (sekolah setingkat SMA di zaman Hindia Belanda) di Semarang dan kemudian di Malang. Masa remaja Tirto Utomo dihabiskan di Malang dan di situlah dia bertemu dengan Lisa / Kienke (Kwee Gwat Kien), yang kelak menjadi istrinya. 
Semasa kuliahm Tirto mengisi waktu luang dengan menjadi wartawan Jawa Pos dengan tugas khusus meliput berita-berita pengadilan. Namun, kemudian Tirto pindah ke Jakarta sambil kuliah ia bekerja sebagai Pimpinan Redaksi harian Sin Po dan majalah Pantja Warna.
Pada tahun 1959. Tirto diberhentikan sebagai pemimpin redaksi Sin Po. Akibatnya sumber keuangan keluarga menjadi tidak jelas. Tirto Utomo menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Hukum UI. Sementara Lisa berperan sebagai pencari nafkah yaitu dengan mengajar dan membuka usaha catering, Tirto belajar dan juga ikut membantu istrinya. Pada Oktober 1960 Tirto Utomo berhak menyandang gelar Sarjana Hukum dan bekerja di Pertamina. 
Kedudukan Tirto Utomo sebagai Deputy Head Legal dan Foreign Marketing membuat sebagian besar hidupnya berada di luar negeri. Pada usia 48 tahun, Tirto Utomo memilih pensiun dini untuk menangani beberapa perusahaan pribadinya yakni AQUA, PT. Baja Putih, dan restoran Oasis.
Di kalangan karyawan dan teman-temannya, Tirto dikenal sebagai pribadi yang sangat sederhana, ramah, murah senyum, namun cerdas berpikir. Dalam hubungannya dengan bawahan, ia menganut gaya manajemen kekeluargaan dan mempercayai kemampuan karyawannya melalui sejumlah pengembangan dan pelatihan manajemen.
“Banyak orang mengira bahwa memproduksi air kemasan adalah hal yang mudah. Mereka pikir yang dilakukan hanyalah memasukkan air kran ke dalam botol. Sebetulnya, tantangannya adalah membuat air yang terbaik, mengemasnya dalam botol yang baik dan menyampaikannya ke konsumen.” Kata Tirto Utomo. Tirto memang sudah wafat pada tahun 1994 namun prestasi Aqua sebagai produsen air minum dengan merek tunggal terbesar di dunia tetap dipertahankan sampai sekarang.
 “Dulu bukan main sulitnya. Dikasih saja orang tidak mau. Untuk apa minum air mentah’, itulah celaan yang tak jarang kami terima,” ujar Willy Sidharta. Saat itu minuman ringan berkabonasi seperti Cola Cola, Sprite, 7 Up, dan Green Spot sedang naik daun sehingga gagasan menjual air putih tanpa warna dan rasa, bisa dianggap sebagai gagasan gila. 

Perjalanan Sejarah
Sejarah
1973 PT AQUA Golden Mississippi didirikan sebagai pioner perusahaan air minum mineral pertama di Indonesia. Pabrik pertama didirikan di Bekasi.
1974 Produksi pertama AQUA diluncurkan dalam bentuk kemasan botol kaca ukuran 950 ml dari pabrik di Bekasi. Harga per botol adalah Rp.75,-
1984 Pabrik AQUA kedua didirikan di Pandaan di Jawa Timur, sebagai upaya agar lebih mendekatkan diri pada konsumen yang berada di wilayah tersebut.
1985 Pengembangan produk AQUA dalam bentuk kemasan PET 220 ml. Pengembangan ini membuat produk AQUA menjadi lebih berkualitas dan lebih aman untuk dikonsumsi.
1993 Menyelenggarakan program AQUA Peduli (AQUA Cares), sebagai langkah pendauran ulang botol plastik AQUA menjadi materi plastik yang bisa dapat digunakan kembali.
1995 AQUA menjadi pabrik air mineral pertama yang menerapkan sistem produksi in line di pabrik Mekarsari. Pemrosesan air dan pembuatan kemasan AQUA dilakukan bersamaan. Hasil sistem in line ini adalah botol AQUA yang baru dibuat dapat segera diisi air bersih di ujung proses produksi., sehingga proses produksi menjadi lebih higienis
1998 Penyatuan AQUA dan grup DANONE pada tanggal 4 September 1998. Langkah ini berdampak pada peningkatan kualitas produk dan menempatkan AQUA sebagai produsen air mineral dalam kemasan (AMDK) yang terbesar di Indonesia.
2000 Bertepatan dengan pergantian milenium, AQUA meluncurkan produk berlabel Danone-AQUA.
2001 DANONE meningkatkan kepemilikan saham di PT Tirta Investama dari 40 % menjadi 74 %, sehingga DANONE kemudian menjadi pemegang saham mayoritas AQUA Group. AQUA menghadirkan kemasan botol kaca baru 380 ml pada 1 November 2001.
2002 Banjir besar yang melanda Jakarta pada awal tahun menggerakkan perusahaan untuk membantu masyarakat dan juga para karyawan AQUA sendiri yang terkena musibah tersebut. AQUA menang telak di ajang Indonesian Best Brand Award. Mulai diberlakukannya Kesepakatan Kerja Bersama [KKB 2002 - 2004] pada 1 Juni 2002.
2003 Perluasan kegiatan produksi AQUA Group ditindaklanjuti melalui peresmian sebuah pabrik baru di Klaten pada awal tahun. Upaya mengintegrasikan proses kerja perusahaan melalui penerapan SAP (System Application and Products for Data Processing) dan HRIS (Human Resources Information System).
2004 Peluncuran logo baru AQUA. AQUA menghadirkan kemurnian alam baik dari sisi isi maupun penampilan luarnya. AQUA meluncurkan varian baru AQUA Splash of Fruit, jenis air dalam kemasan yang diberi esens rasa buah strawberry dan orange-mango. Peluncuran produk ini memperkuat posisi AQUA sebagai produsen minuman.
2005 DANONE membantu korban tsunami di ACEH. Pada tanggal 27 September, AQUA memproduksi MIZONE, minuman bernutrisi yang merupakan produk dari DANONE. MIZONE hadir dengan dua rasa, orange lime dan passion fruit.
 
sumber : http://sukses-kerja-usaha.blogspot.com

Ubah Kegusaran Jadi Inovasi (kaos C59)




Tentu Anda pernah mendengar nama kaus bermerk C59. Kesuksesan C59 tidak lepas dari kepiawaian penggagasnya, Marius Widyarto atau yang akrab dipanggil Mas Wiwied. Bermula dari rasa gusarnya melihat teman-temannya yang memamerkan kaos bergambar kota mancanegara buah tangan dari orang tuanya usai bepergian dari luar negeri, Wiwied kemudian tertantang untuk membuat sendiri kaus bergambar patung Liberty dan kota New York dan sesumbar bahwa omnya juga baru datang dari luar negeri, sejak saat itulah ia semakin dikenal sebagai orang yang piawai membuat kaus, sampai-sampai, ketika ia bekerja di sebuah perusahaan kontraktor, ia lebih sering didatangi orang untuk urusan pesanan kaus daripada untuk pekerjaannya.

Wiwied yang sejak kecil menyukai pekerjaan prakarya memulai usahanya dari rumahnya yang berukuran 60 meter persegi di Gang Caladi 59, yang akhirnya menjadi nama merk kausnya dengan modal awal dari hasil penjualan kado pernikahannya dengan Maria Goreti Murniati. Mental entrepreneur Wiwied banyak ditempa ketika ia ikut seorang pengusaha keturunan di Bandung yang memperlakukannya secara keras.Pada awalnya Wiwied menjalankan usahanya dari order kanan kiri, ia juga ikut mendesain,memilih bahan, memotong,menjahit, menyablon sampai finishing disamping juga mencari order.

Usahanya meningkat ketika mendapatkan order dari Nichimen-perusahaan Jepang yang bergerak di bidang pestisida, kaus itu untuk dibagi-bagikan ke para petani. Usahanya semakin terasa meningkat setelah mengikuti kegiatan Air Show 1986 di Jakarta yang diikuti pula oleh para peserta dari mancanegara.

Wiwied kemudian juga merambah bidang retail yang bermula dari menjual sisa order yang tidak memenuhi syarat yang ternyata juga diminati orang. Setelah usahanya meningkat, pada tahun 1992, ia kemudian pindah ke Jalan Tikukur nomor 10 yang kemudian memborong rumah di sekitarnya yakni nomor 4,7,8 dan 9 yang kemudian ia jadikan kantor dan showroom produknya. Selain itu ia juga membuka showroom di daerah lain, seperti Balikpapan, Bali, Yogyakarta dan kota lain sehingga kini ia memiliki sekitar 600 outlet di Indonesia dengan mempekerjakan sekitar 4.000 karyawan.

Di mancanegara, Wiwied memiliki 60 showroom yang tersebar di Slowakia, Polandia, dan Ceko. Bahkan kini ia juga sudah merambah jaringan Metro Dept.Store di Singapura. Keberhasilannya menembus mancanegara bermula dari beberapa stafnya yang bersekolah di luar negeri yang biasanya membawa satu dua koper kaus C59 dan dijual pelan-pelan di sana, kemudian diadakan survei yang tenyata pasar di sana menguntungkan karena memiliki empat musim, sehingga tidak hanya bisa menjual t-shirt namun juga sweater atau jaket.

Wiwied juga memiliki sebuah pabrik di daerah Cigadung, Bandung. Pabrik ini dibangun setelah mendapatkan kredit dari Robbie Djohan yang saat itu menjabat Dirut Bank Niaga pada tahun 1993, ketika itu Bank Niaga memesan t-shirt ke C59. Di tahun yang sama pula ia mengubah bentuk usahanya menjadi PT. Caladi Lima Sembilan. Keberhasilan Wiwied dibuktikan dengan berbagai penghargaan yang telah ia terima, diantaranya Upakarti 1996, ASEAN Development Executive Award 2000-2001 dan pemenang I Enterprise 50.

ref :

http://www.ciputraentrepreneurship.com