Direktur Utama Saratoga Capital
Dalam satu tahun terakhir sering saya dengar atau temui
anak-anak muda yang mulai mendapatkan penghasilan tambahan atau istilahnya
"side job" dengan melakukan beragam hal yang tidak pernah mereka
lakukan sebelumnya. Mulai menjadi penerjemah buku, laporan tahunan perusahaan
atau product manual dari beragam brand terkenal. Selain itu juga ada yang
menjadi graphic designer atau "konsultan" beragam kebutuhan
perusahaan seperti disain, komunikasi, atau sebagai penyelenggara acara (event
organiser).
Yang lebih mengesankan lagi semua itu dikerjakan dari mal,
cafe, coffee shop atau internet cafe. Bahkan
rumah dan warnet pun semakin ditinggalkan sebagai tempat bekerja. Yang
menjadi klien mulai dari keluarga, sahabat atau kerabat dekat.
Banyak dari anak-anak muda tersebut yang masih menyelesaikan
kuliah. Tidak sedikit juga yang baru mulai bekerja di perusahaan-perusahaan
konsultan asing bergengsi di Jakarta dan Surabaya.
Sangat dinamis, sangat penuh gairah dan sangat cerah masa
depan dari anak-anak muda tersebut. Kombinasi antara working hard, working
smart dan playing hard semakin bergeser dari tren musiman menjadi gaya hidup.
Kalau keadaan ini terus berlangsung bahkan terus
ditingkatkan, dapat dipastikan bahwa prospek bisnis dan perekonomian Indonesia
juga semakin cerah.
Fenomena ini membuktikan bahwa banyak bakat yang tidak lagi
terpendam yang dimiliki oleh generasi muda Indonesia. Fenomena ini juga
membuktikan bahwa generasi yang lebih tua atau setidaknya lebih senior semakin
?terbiasa? mempercayakan pekerjaan yang cukup penting kepada generasi muda yang
minim namun haus pengalaman. Yang penting adalah keberanian untuk memulai dan
mencoba serta komitmen yang tinggi terhadap kualitas dan tenggat waktu.
Bagi saya dan rekan-rekan pengusaha muda, fenomena ini sangat
kami syukuri. Bukan apa-apa, mereka dapat benar-benar memenuhi beragam
kebutuhan usaha yang tadinya hanya dilayani oleh konsultan asing yang harganya
tidak murah dan hasilnya sering kali kurang memuaskan. Walaupun masih bersifat
informal, kompetisi sudah mulai tampak bahkan meningkat di antara para
?side-jobers?.
Mungkin tidak lama lagi sebagian dari mereka akan mulai
mendirikan perusahaannya sendiri dan perlahan-lahan menjadi sekumpulan
pengusaha muda yang kreatif, haus pengalaman dan tentunya haus akan
keberhasilan. Saat itu, harga mereka tidak akan semurah yang mereka tawarkan
sekarang.
Tapi tidak apa-apa. Lebih ?sreg? rasanya membayar agak lebih
mahal kepada sesama pengusaha nasional yang masih muda-muda, dibandingkan
perusahaan besar, apalagi perusahan asing. Mari menjadi juara di negeri
sendiri. Yuk jadi pengusaha!
ref :
http://www.ciputraentrepreneurship.com
|
Kata menyerah adalah kurang sopan jika di dengar oleh Tuhan, karena kita berarti meremehkan kualitas ciptaan-Nya.
Selasa, 24 April 2012
Yuk Jadi Pengusaha , Oleh Sandiaga S. Uno
Sabtu, 07 April 2012
Bambang Suryanto, Kebangkrutan Jadi Motivasi Kesuksesan
Bambang Suryanto tipikal sosok pemilik usaha mikro kecil
menengah (UMKM) yang ulet dan disiplin. Bangkit dari kebangkrutan, sukses
menumbuhkan bisnis seprei dan bed cover.
Suara mesin jahit dan kesibukan para karyawan menjadi
pemandangan sehari-hari di rumah Bambang yang terletak di kawasan Perumahan
Telaga Sakinah, Cibitung, Bekasi. "rumah saya adalah tempat usaha saya,”
katanya.
Tak pelak, rumahnya penuh dengan kain-kain bahan pembuat
seprei dan bed cover, termasuk barang yang sudah jadi dan siap dikirim ke
pelanggan dan dipasarkan. Meski waktu masih begitu pagi, kesibukan karyawan
Bambang yang berjumlah 20 orang begitu kentara. Di halaman depan rumahnya,
terlihat karyawan perempuan tengah membuat pola bed cover. Masuk ke dalam,
kesibukan semakin terlihat. Di ruang dapur yang disulap menjadi tempat
pemotongan kain untuk seprei dan bed cover, beberapa karyawan laki-laki sibuk
memainkan guntingnya memotong bagian kain menjadi bentuk yang siap diubah
menjadi seprei atau bed cover.
”Karyawan saya sebagian besar adalah warga sekitar
perumahan. Saya berusaha memberdayakan mereka,terutama ibu-ibu agar bisa
menambah penghasilan keluarga,” terang Bambang.
Menurut Bambang, sejak dia terjun langsung menekuni usaha
seprei dan bed cover, jumlah karyawannya terus meningkat. Dari awalnya hanya
bisa dihitung dengan jari, kini mencapai 20 karyawan. Salah satu kunci sukses
usaha yang dikembangkan Bambang adalah memperlakukan karyawan seperti keluarga
sendiri. ”Segala kebutuhan mereka dari tidur dan makan kami tanggung. Sistem
pembayarannya pun borongan. Siapa yang mengerjakan banyak dia akan dapat
banyak. Itu untuk memotivasi mereka,”tuturnya. Bambang ingin, ke depannya
semakin banyak karyawan yang mampu dia rekrut dari lingkungan sekitar.
Semakin banyak orang yang bekerja dengannya, Bambang mengaku
semakin senang. ”Meski usaha saya belum seberapa, tapi kalau mampu menyediakan
lapangan kerja bagi orang lain,rasanya kok senang,”ujarnya. Tapi, jangan dikira
jalan ayah dua anak ini hingga menjadi seperti sekarang semulus yang
dibayangkan. Asam garam kehidupan pernah dirasakan Bambang. Mantan pekerja di
bidang tekstil ini bahkan sempat mengalami kebangkrutan.
Awalnya, suami dari Sutiah ini hanyalah karyawan biasa di
industri pertekstilan. Belasan tahun dia mengabdi di perusahaan milik investor
asal China, hingga suatu saat perusahaannya memilih hengkang dari Indonesia.
”Waktu itu saya ditawari untuk ikut ke China, tapi saya pikirpikir risikonya terlalu
tinggi, sementara usia saya sudah 40 tahunan,” tutunya.
Singkat cerita, jalan PHK-lah yang ditempuh Bambang
Mengalami PHK di usia yang tidak muda tentu menjadi pilihan sulit. Namun,
justru pada saat terdesak itu mengantarkan Bambang semakin kreatif dan
tertantang. Tak ingin berlama-lama berpangku tangan, dia pun memilih mencoba
mendirikan usaha keramik. Bambang mengaku, selama menjalani usaha keramik,
kerap mondar-mandir ke luar kota, seperti Yogyakarta dan Semarang, untuk
mencari pasar dan bahan baku keramik. Usahanya memang sempat menyembulkan
harapan. Beberapa order dan pesanan mulai datang. Bambang yang awalnya tak
yakin dengan pilihannya, mengingat latar belakangnya di bidang pertekstilan,
semakin mantap dengan usaha keramik yang dijalankannya.
Malah, nasihat sang istri agar Bambang menggeluti usaha yang
sesuai bidangnya saja yakni pertekstilan sempat tak digubris. "Waktu itu
saya sedang yakin usaha keramik saya bakal mulus,” katanya. Mujur tak dapat
diraih, malang tak dapat ditolak. Usaha keramik Bambang ternyata tak bertahan
lama. Usahanya mengalami kehancuran. Bambang bangkrut. Modal yang sudah
dikeluarkan pun raib. ”Saat itu saya benarbenar jatuh,” lirihnya.
Beruntung Bambang memiliki istri setegar dan sehebat Sutiah.
Di saat suaminya dirundung masalah, Sutiah tetap mendampingi dengan sabar.
Malah, Sutiah kembali menghembuskan ide untuk menerjuni usaha di bidang
tekstil. Kebetulan, selama Bambang menjalankan bisnis keramik, Sutiah secara
diam-diam mulai mengembangkan usaha pembuatan seprei dan bed cover. Jalan telah
dibuka. Kali ini Bambang pun tak kuasa menolak ajakan sang istri. ”Pada 2005,
setelah saya mengalami kebangkrutan, saya mulai secara total menerjuni bisnis
ini,” paparnya.
Kini, setelah lima tahun berjalan, usaha Bambang tengah
menemukan momentumnya. CV Surya Jamarindo dengan produk dagangnya ”Nice Sleep”
semakin berkibar. Surya Jamarindo sendiri diambil dari nama belakang Bambang
dan nama ayahnya. ”Supaya tetap mengingat jasa orangtua,” kata Bambang tentang
nama perusahaannya itu. Produk seprei dan bed cover ”Nice Sleep” sekarang sudah
merambah ke mana-mana. Dengan harga jual Rp 85.000 untuk seprei dan Rp 260.000
untuk bed cover berukuran 180 X 200 cm, produknya diterima dengan baik di
masyarakat. ”Selain jual eceran, kami juga jual dalam partai besar,” terangnya.
Tak hanya memproduksi merek dagang sendiri, CV Surya
Jamarindo juga menerima pesanan dari pihak luar, seperti seprei untuk hotel
atau untuk pelanggan lain dengan merek dagang sendiri. Bambang menjamin, produk
buatannya memiliki kualitas tinggi karena menggunakan bahan terbaik. ”Rata-rata
adalah bahan katun,” ujarnya. Diferensiasi produk juga terus dilakukan Bambang.
Tak hanya fokus dengan pembuatan seprei dan bed cover, Bambang juga melirik
produk lain yang digemari di pasaran. CV Surya Jamarindo mengeluarkan
produk-produk dengan istilah menggelitik seperti ”balmut” (bantal selimut),
”gulmut” (guling selimut), serta bantal cinta. Dalam pengembangan produk ini
kata Bambang, peran sang istri begitu dominan.
Menurut Bambang, istrinyalah yang memiliki kepekaan terhadap
pasar dan memiliki keterampilan membuat desain. "Urusan desain dan
pasar,istri saya yang paling berperan,”katanya.
Produk-produk seperti ”balmut”, ”gulmut”, dan bantal cinta
ternyata diterima pasar dengan baik, terutama anak muda. Biasanya anak-anak
muda memanfaatkan produk itu sebagai teman dalam perjalanan atau sebagai
pemanis di tempat tidur mereka. Kendati demikian, tantangan ke depan bukannya
tidak ada,malah semakin berat. Terutama seiring masuknya produk serupa dari
China. Dengan harga lebih murah, produk serupa dari China biasanya banyak
diburu konsumen dalam negeri. Untuk menghadapi tantangan tersebut, Bambang yang
mengaku omzetnya kini mencapai Rp 200 juta per bulan berusaha menaikkan
produksinya agar bisa bersaing dengan produk China dan produk sejenis dari
tanah Air.
Produksi seprei Bambang kini mencapai antara 6.000–8.000 set
per bulan. Sedangkan untuk bed cover mencapai 2.000–3.000 set per bulan.
Kapasitas produksi itu ingin dia naikkan menjadi 30.000 set per bulan, terutama
untuk produk seprei. Bambang yakin
keinginannya menaikkan kapasitas produksi dapat terpenuhi mengingat dia sudah
mendapat penawaran kerja sama dari dua perusahaan besar di kawasan Jakarta.
”Semakin besar usaha ini, semakin banyak pula lapangan kerja yang dapat kami
sediakan," begitulah harapnya. (*/Koran Sindo)
sumber :
http://www.ciputraentrepreneurship.com
Perjalanan AQUA Sukses Memanfaatkan Peluang Bisnis Usaha Air Putih
Kisah sukses ini berawal dari sosok Tirto Utomo yang menggagas
berdirinya Aqua. Pria kelahiran Wonosobo, 9 Maret 1930 ini menggagas
lahirnya industri air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia melalui PT
Golden Mississippi pada tanggal 23 Pebruari 1973. Produk pertamanya
saat itu adalah Aqua botol kaca 950 ml yang kemudian disusul kemasan
AQUA 5 galon, pada waktu itu juga masih terbuat dari kaca.
Tirto Utomo, warga asli Wonosobo, mendirikan perusahaan air minum dalam
kemasan (AMDK) karena ketika bekerja sebagai pegawai Pertamina di awal
tahun 1970-an Tirto bertugas menjamu delegasi sebuah perusahaan Amerika
Serikat. Namun jamuan itu terganggu ketika istri ketua delegasi
mengalami diare yang disebabkan karena mengonsumsi air yang tidak
bersih. Tirto kemudian mengetahui bahwa tamu-tamunya yang berasal dari
negara Barat tidak terbiasa meminum air minum yang direbus, tetapi air
yang telah disterilkan.
Inisiatif bisnispun segera datang. Bersama saudara-saudaranya, Tirto
mulai mempelajari cara memproses air minum dalam kemasan. Adiknya,
Slamet Utomo diminta untuk magang di Polaris, sebuah perusahaan AMDK
yang ketika itu telah beroperasi 16 tahun di Thailand. Tidak
mengherankan bila pada awalnya produk Aqua menyerupai Polaris mulai dari
bentuk botol kaca, merek mesin pengolahan air, sampai mesin pencuci
botol serta pengisi air.
Usai mengerti cara kerja pembuatan air minum dalam kemasan, Tirto
mendirikan pabrik pertamanya di Pondok Ungu, Bekasi, dan menamai pabrik
itu Golden Missisippi dengan kapasitas produksi enam juta liter per
tahun. Tirto sempat ragu dengan nama Golden Missisippi yang meskipun
cocok dengan target pasarnya, ekspatriat, namun terdengar asing di
telinga orang Indonesia. Konsultannya, Eulindra Lim, mengusulkan untuk
menggunakan nama Aqua karena cocok terhadap imej air minum dalam botol
serta tidak sulit untuk diucapkan. Tirto kemudian mengubah merek
produknya dari Puritas menjadi Aqua.
Dua tahun kemudian, produksi pertama Aqua diluncurkan dalam bentuk
kemasan botol kaca ukuran 950 ml dengan harga jual Rp.75, hampir dua
kali lipat harga bensin yang ketika itu bernilai Rp.46 untuk 1.000 ml.
Bermodal Keberanian
Meskipun saat itu air mineral dalam kemasan belum ada di Indonesia,
Tirto tetap yakin dengan langkahnya. Keluar dari tempat kerjanya yang
mapan di Pertamina, pada 1982, Tirto mengganti bahan baku (air) yang
semula berasal dari sumur bor ke mata air pegunungan yang mengalir
sendiri (self-flowing spring) karena dianggap mengandung komposisi
mineral alami yang kaya nutrisi seperti kalsium, magnesium, potasium,
zat besi, dan sodium.
Dengan bantuan Willy Sidharta, sales dan perakit mesin pabrik pertama
Aqua, sistem distribusi Aqua bisa diperbaiki. Willy menciptakan konsep
delivery door to door khusus yang menjadi cikal bakal sistem pengiriman
langsung Aqua. Konsep pengiriman menggunakan kardus-kardus dan
galon-galon menggunakan armada yang didesain khusus membuat penjualan
Aqua Secara konsisten membaik.
tahun 1974 sampai 1978 adalah masa-masa sulit bagi perusahaan ini.
Apalagi permintaan konsumen masih sangat rendah. Masyarakat kala itu
masih “asing” dengan air minum dalam kemasan. Apalagi harga 1 liter Aqua
lebih mahal daripada harga 1 liter minyak tanah.
Tapi pemilik Aqua tidak menyerah. Dengan berbagai upaya dan kerja keras,
akhirnya Aqua mulai diterima masyarakat luas. Bahkan tahun 1978, Aqua
telah mencapai titik BEP. Dan saat itu menjadi batu loncatan kisah
sukses Aqua yang terus berkembang pesat.
Saat itu memang produk Aqua ditujukan untuk market kelas menengah ke
atas, baik dalam rumah tangga, kantor-kantor dan restoran. Namun sejak
tahun 1981, Aqua telah berganti kemasan dari semula kaca menjadi plastik
sehingga melahirkan berbagai varian kemasan. Hal ini menyebabkan
distribusi yang lebih mudah dan harga yang lebih terjangkau sehingga
produk Aqua dapat dijangkau masyarakat dari berbagai kalangan.
Dari sisi kemasan, Aqua juga menjadi pelopor. Botol plastiknya yang
semula berbahan PVC yang tidak ramah lingkungan, sejak 1988 telah
diganti menjadi bahan PET. Padahal saat itu di Eropa masih menggunakan
bahan PVC. Selain itu desain botol Aqua berbentuk persegi bergaris yang
mudah dipegang telah menggantikan desain botol bulat Eropa. Bahkan botol
PET ciptaan Aqua ini telah dijadikan standar dunia.
Pada 1984, Pabrik AQUA kedua didirikan di Pandaan, Jawa Timur. Dan Pada
1995, Aqua menjadi pabrik air mineral pertama yang menerapkan sistem
produksi in line di pabrik Mekarsari. Pemrosesan air dan pembuatan
kemasan AQUA dilakukan bersamaan. Hasil sistem in-line ini adalah botol
AQUA yang baru dibuat dapat segera diisi air bersih di ujung proses
produksi, sehingga proses produksi menjadi lebih higienis.
Aqua juga sukses di mancanegara. Sejak 1987, produk Aqua telah diekspor
ke berbagai negara seperti Singapura, Malaysia, Fillipina, Australia,
Maldives, Fuji, Timur Tengah dan Afrika. Berbagai prestasi dan
penghargaan pun didapatkan baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Pada tahun 1998, karena ketatnya persaingan dan munculnya
pesaing-pesaing baru, Lisa Tirto sebagai pemilik Aqua Golden Mississipi
sepeninggal ayahnya Tirto Utomo, menjual sahamnya kepada Danone pada 4
September 1998. Akusisi tersebut dianggap banyak pihak sebagai langkah
tepat setelah beberapa cara pengembangan tidak cukup kuat menyelamatkan
Aqua dari ancaman pesaing baru.
Langkah ini berdampak pada peningkatan kualitas produk dan menempatkan
AQUA sebagai produsen air mineral dalam kemasan (AMDK) yang terbesar di
Indonesia. Pada tahun 2000, bertepatan dengan pergantian milenium, Aqua
meluncurkan produk berlabel Danone-Aqua.
Almarhum Tirto Utomo pun dinobatkan sebagai pencetus air minum dalam
kemasan dan masuk dalam “Hall of Fame” . Dan berdasarkan survey Zenith
International, sebuah badan survey Inggris, Aqua dinobatkan sebagai merk
air minum dalam kemasan terbesar di Asia Pasifik, dan air minum dalam
kemasan nomor dua terbesar di dunia. Sebuah prestasi yang mungkin tidak
pernah dikira-kira.■
Nekat Mendirikan Aqua
Tirto Utomo, kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah 8 Maret 1930, harus
bersekolah Magelang yang berjarak sekitar 60 kilometer, ketika SMP,
karena memang di Wonosobo belum ada SMP. Perjalanan itu ditempuh
dengan sepeda.
Dibesarkan dari anak seorang pengusaha susu sapi an pedagang ternak,
lulus SMP, Tirto Utomo melanjutkan sekolah ke HBS (sekolah setingkat SMA
di zaman Hindia Belanda) di Semarang dan kemudian di Malang. Masa
remaja Tirto Utomo dihabiskan di Malang dan di situlah dia bertemu
dengan Lisa / Kienke (Kwee Gwat Kien), yang kelak menjadi istrinya.
Semasa kuliahm Tirto mengisi waktu luang dengan menjadi wartawan Jawa
Pos dengan tugas khusus meliput berita-berita pengadilan. Namun,
kemudian Tirto pindah ke Jakarta sambil kuliah ia bekerja sebagai
Pimpinan Redaksi harian Sin Po dan majalah Pantja Warna.
Pada tahun 1959. Tirto diberhentikan sebagai pemimpin redaksi Sin Po.
Akibatnya sumber keuangan keluarga menjadi tidak jelas. Tirto Utomo
menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Hukum UI. Sementara Lisa berperan
sebagai pencari nafkah yaitu dengan mengajar dan membuka usaha catering,
Tirto belajar dan juga ikut membantu istrinya. Pada Oktober 1960 Tirto
Utomo berhak menyandang gelar Sarjana Hukum dan bekerja di Pertamina.
Kedudukan Tirto Utomo sebagai Deputy Head Legal dan Foreign Marketing
membuat sebagian besar hidupnya berada di luar negeri. Pada usia 48
tahun, Tirto Utomo memilih pensiun dini untuk menangani beberapa
perusahaan pribadinya yakni AQUA, PT. Baja Putih, dan restoran Oasis.
Di kalangan karyawan dan teman-temannya, Tirto dikenal sebagai pribadi
yang sangat sederhana, ramah, murah senyum, namun cerdas berpikir. Dalam
hubungannya dengan bawahan, ia menganut gaya manajemen kekeluargaan dan
mempercayai kemampuan karyawannya melalui sejumlah pengembangan dan
pelatihan manajemen.
“Banyak orang mengira bahwa memproduksi air kemasan adalah hal yang
mudah. Mereka pikir yang dilakukan hanyalah memasukkan air kran ke dalam
botol. Sebetulnya, tantangannya adalah membuat air yang terbaik,
mengemasnya dalam botol yang baik dan menyampaikannya ke konsumen.” Kata
Tirto Utomo. Tirto memang sudah wafat pada tahun 1994 namun prestasi
Aqua sebagai produsen air minum dengan merek tunggal terbesar di dunia
tetap dipertahankan sampai sekarang.
“Dulu bukan main sulitnya. Dikasih saja orang tidak mau. Untuk apa
minum air mentah’, itulah celaan yang tak jarang kami terima,” ujar
Willy Sidharta. Saat itu minuman ringan berkabonasi seperti Cola Cola,
Sprite, 7 Up, dan Green Spot sedang naik daun sehingga gagasan menjual
air putih tanpa warna dan rasa, bisa dianggap sebagai gagasan gila.
Perjalanan Sejarah
Sejarah
1973 PT AQUA Golden Mississippi didirikan sebagai pioner
perusahaan air minum mineral pertama di Indonesia. Pabrik pertama
didirikan di Bekasi.
1974 Produksi pertama AQUA diluncurkan dalam bentuk kemasan botol
kaca ukuran 950 ml dari pabrik di Bekasi. Harga per botol adalah
Rp.75,-
1984 Pabrik AQUA kedua didirikan di Pandaan di Jawa Timur,
sebagai upaya agar lebih mendekatkan diri pada konsumen yang berada di
wilayah tersebut.
1985 Pengembangan produk AQUA dalam bentuk kemasan PET 220 ml.
Pengembangan ini membuat produk AQUA menjadi lebih berkualitas dan lebih
aman untuk dikonsumsi.
1993 Menyelenggarakan program AQUA Peduli (AQUA Cares), sebagai
langkah pendauran ulang botol plastik AQUA menjadi materi plastik yang
bisa dapat digunakan kembali.
1995 AQUA menjadi pabrik air mineral pertama yang menerapkan
sistem produksi in line di pabrik Mekarsari. Pemrosesan air dan
pembuatan kemasan AQUA dilakukan bersamaan. Hasil sistem in line ini
adalah botol AQUA yang baru dibuat dapat segera diisi air bersih di
ujung proses produksi., sehingga proses produksi menjadi lebih higienis
1998 Penyatuan AQUA dan grup DANONE pada tanggal 4 September
1998. Langkah ini berdampak pada peningkatan kualitas produk dan
menempatkan AQUA sebagai produsen air mineral dalam kemasan (AMDK) yang
terbesar di Indonesia.
2000 Bertepatan dengan pergantian milenium, AQUA meluncurkan produk berlabel Danone-AQUA.
2001 DANONE meningkatkan kepemilikan saham di PT Tirta Investama
dari 40 % menjadi 74 %, sehingga DANONE kemudian menjadi pemegang saham
mayoritas AQUA Group. AQUA menghadirkan kemasan botol kaca baru 380 ml
pada 1 November 2001.
2002 Banjir besar yang melanda Jakarta pada awal tahun
menggerakkan perusahaan untuk membantu masyarakat dan juga para karyawan
AQUA sendiri yang terkena musibah tersebut. AQUA menang telak di ajang
Indonesian Best Brand Award. Mulai diberlakukannya Kesepakatan Kerja
Bersama [KKB 2002 - 2004] pada 1 Juni 2002.
2003 Perluasan kegiatan produksi AQUA Group ditindaklanjuti
melalui peresmian sebuah pabrik baru di Klaten pada awal tahun. Upaya
mengintegrasikan proses kerja perusahaan melalui penerapan SAP (System
Application and Products for Data Processing) dan HRIS (Human Resources
Information System).
2004 Peluncuran logo baru AQUA. AQUA menghadirkan kemurnian alam
baik dari sisi isi maupun penampilan luarnya. AQUA meluncurkan varian
baru AQUA Splash of Fruit, jenis air dalam kemasan yang diberi esens
rasa buah strawberry dan orange-mango. Peluncuran produk ini memperkuat
posisi AQUA sebagai produsen minuman.
2005 DANONE membantu korban tsunami di ACEH. Pada tanggal 27
September, AQUA memproduksi MIZONE, minuman bernutrisi yang merupakan
produk dari DANONE. MIZONE hadir dengan dua rasa, orange lime dan
passion fruit.
sumber : http://sukses-kerja-usaha.blogspot.com
Ubah Kegusaran Jadi Inovasi (kaos C59)
Tentu Anda pernah mendengar nama kaus bermerk C59.
Kesuksesan C59 tidak lepas dari kepiawaian penggagasnya, Marius Widyarto atau
yang akrab dipanggil Mas Wiwied. Bermula dari rasa gusarnya melihat
teman-temannya yang memamerkan kaos bergambar kota mancanegara buah tangan dari
orang tuanya usai bepergian dari luar negeri, Wiwied kemudian tertantang untuk
membuat sendiri kaus bergambar patung Liberty dan kota New York dan sesumbar
bahwa omnya juga baru datang dari luar negeri, sejak saat itulah ia semakin dikenal
sebagai orang yang piawai membuat kaus, sampai-sampai, ketika ia bekerja di
sebuah perusahaan kontraktor, ia lebih sering didatangi orang untuk urusan
pesanan kaus daripada untuk pekerjaannya.
Wiwied yang sejak kecil menyukai pekerjaan prakarya memulai
usahanya dari rumahnya yang berukuran 60 meter persegi di Gang Caladi 59, yang
akhirnya menjadi nama merk kausnya dengan modal awal dari hasil penjualan kado
pernikahannya dengan Maria Goreti Murniati. Mental entrepreneur Wiwied banyak
ditempa ketika ia ikut seorang pengusaha keturunan di Bandung yang
memperlakukannya secara keras.Pada awalnya Wiwied menjalankan usahanya dari
order kanan kiri, ia juga ikut mendesain,memilih bahan, memotong,menjahit,
menyablon sampai finishing disamping juga mencari order.
Usahanya meningkat ketika mendapatkan order dari
Nichimen-perusahaan Jepang yang bergerak di bidang pestisida, kaus itu untuk
dibagi-bagikan ke para petani. Usahanya semakin terasa meningkat setelah
mengikuti kegiatan Air Show 1986 di Jakarta yang diikuti pula oleh para peserta
dari mancanegara.
Wiwied kemudian juga merambah bidang retail yang bermula
dari menjual sisa order yang tidak memenuhi syarat yang ternyata juga diminati
orang. Setelah usahanya meningkat, pada tahun 1992, ia kemudian pindah ke Jalan
Tikukur nomor 10 yang kemudian memborong rumah di sekitarnya yakni nomor 4,7,8
dan 9 yang kemudian ia jadikan kantor dan showroom produknya. Selain itu ia
juga membuka showroom di daerah lain, seperti Balikpapan, Bali, Yogyakarta dan
kota lain sehingga kini ia memiliki sekitar 600 outlet di Indonesia dengan
mempekerjakan sekitar 4.000 karyawan.
Di mancanegara, Wiwied memiliki 60 showroom yang tersebar di
Slowakia, Polandia, dan Ceko. Bahkan kini ia juga sudah merambah jaringan Metro
Dept.Store di Singapura. Keberhasilannya menembus mancanegara bermula dari
beberapa stafnya yang bersekolah di luar negeri yang biasanya membawa satu dua
koper kaus C59 dan dijual pelan-pelan di sana, kemudian diadakan survei yang
tenyata pasar di sana menguntungkan karena memiliki empat musim, sehingga tidak
hanya bisa menjual t-shirt namun juga sweater atau jaket.
Wiwied juga memiliki sebuah pabrik di daerah Cigadung,
Bandung. Pabrik ini dibangun setelah mendapatkan kredit dari Robbie Djohan yang
saat itu menjabat Dirut Bank Niaga pada tahun 1993, ketika itu Bank Niaga
memesan t-shirt ke C59. Di tahun yang sama pula ia mengubah bentuk usahanya
menjadi PT. Caladi Lima Sembilan. Keberhasilan Wiwied dibuktikan dengan
berbagai penghargaan yang telah ia terima, diantaranya Upakarti 1996, ASEAN
Development Executive Award 2000-2001 dan pemenang I Enterprise 50.
ref :
http://www.ciputraentrepreneurship.com
Langganan:
Postingan (Atom)