Senin, 06 Februari 2012

Haji Bunyamin "Menggemukkan Domba Dengan Tawakkal Farm"

 
Usaha penggemukan domba milik H Bunyamin selalu diminati konsumen. Kuncinya, domba harus berpenampilan sehat dan bersih. Desa Cimande, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, kini tidak saja dikenal sebagai tempat dukun patah tulang dan perguruan silat, tapi juga sentra peternakan domba. Predikat sebagai daerah peternakan domba itu muncul setelah Haji Bunyamin mendirikan "Tawakkal Farm", sebuah usaha penggemukan domba sejak 1993.

Begitu memasuki mulut desa Cimande, setiap pengunjung atau tamu dengan mudah mencari sang peternak, karena nama Haji Haji Bunyamin sudah begitu dikenal oleh tukang ojek yang mangkal di sana. Peternakan yang dirintis oleh Haji Bunyamin mulai dari usaha kecil-jecilan itu, kini telah berkembang cukup pesat. Di sana sekarang terdapat 1.200 ekor domba, yang ditempatkan dalam lima kandang kayu. Semua kandang terawat bersih, bahkan tidak tercium bau domba.

Bunyamin biasa menerima para tamu di sebuah kamar sekaligus tempatnya bekerja, yang berada persis di depan kandang domba. Para tamu yang berkunjung ke sana datang dari berbagai kalangan. Mahasiswa jurusan peternakan Universitas Padjajaran dan Institut Pertanian Bogor (IPB) misalnya, sering kali menjadikan peternakan Bunyamin ini sebagai tempat magang. Begitu pula para karyawan yang memasuki masa pensiun, seperti karyawan Bank Indonesia dan BRI, sengaja datang untuk mempelajari cara beternak domba sebagai persiapan usaha bila masa pensiun tiba.
"Tapi saya sendiri tidak punya ilmunya. Saya hanya tukang angon," kata Bunyamin merendah. Domba-domba hasil penggemukan Bunyamin memang sudah dikenal, bukan saja di Bogor tapi hingga ke wilayah Tangerang dan Jakarta. Biasanya domba-domba itu masuk ke restoran untuk sop atau sate, dan juga untuk kurban pada hari raya Idul Adha.
Untuk restoran di kawasan Ciawi hingga Puncak saja, terdapat 32 rumah makan yang menyediakan sop dan sate kambing. Menurut survei yang dilakukan Haji Kadir, seorang pemilik rumah makan khusus menyediakan sop dan sate di Cisarua, untuk kebutuhan seluruh rumah makan di kawasan itu dibutuhkan 560 ekor domba setiap hari atau 560 ekor dalam seminggu. Rumah makan milik Haji Kadir saja membutuhkan delapan ekor domba per hari, dan kalau malam minggu bisa sampai 14 ekor.
"Untuk memebuhi kebutuhan rumah makan dari pasar Ciawi sampai Puncak saja saya tidak sanggup. Kesanggupan saya paling hanya dua hari dalam seminggu,"aku Bunyamin.
Meski sudah 16 tahun menggeluti usaha penggemukan domba, Bunyamin merasa masih belum pantas disebut sebagai peternak domba yang sukses. Baginya, peternak yang sukses salah satu persayaratannya harus sudah punya lahan sendiri, tempat menanam rumput sebagai makanan utama domba.

Untuk saat ini guna memenuhi kebutuhan pakan domba-dombanya, Bunyamin masih harus mencari rumput ke kawasan lain di sekitar Cimande. Tapi, saat musim kemarau lokasi tempat pengambilan rumput semakin jauh, sehingga harus menambah beban transportasi. Setidaknya, dalam sehari, 120 karung rumput harus disediakan untuk semua dombanya, yang diberi makan sebanyak dua kali, pagi dan sore.
Tidak heran bila domba-domba milik Bunyamin tampak sehat. Bulu-bulu dombanya tidak dibiarkan tumbuh tak terawat. Ketika domba dari warga yang dibelinya masuk ke peternakan, harus dicukur biar bersih. Kukunya dipotong secara berkala. Obat cacing juga rutin diberikan untuk membersihkan isi perutnya. Sebab, menurut pensiunan pegawai negeri sipil di Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor ini, hampir semua kambing yang dipelihara warga pasti terkena penyakit cacing.
Domba yang sehat dan terawat adalah daya tarik tersendiri bagi konsumen. "Mereka akan merasa puas dengan domba seperti ini, " kata lelaki kelahiran Cianjur, Jawa Barat, 2 Mei 1956 ini. Apalagi bila melihat domba Garut atau sering disebut domba tangkas yang khusus untuk domba adu. Harga bibitnya saja bisa mencapai Rp 3 juta. Di peternakan milik Bunyamin, harga domba Garut ditentukan oleh "tongkrongannya" . Artinya, kalau penampilannya bagus dan bersih harga seekor domba Garut bisa mencapai Rp 15 juta.
Keberhasilan Bunyamin menggeluti usaha penggemukan domba, bermula dari hobi memelihara domba. Ketika itu pada 1990, Bunyamin memelihara enam ekor domba di belakang rumahnya. Ketika lebaran haji tiba, dia memotong tiga ekor dan menjual tiga ekor lainnya. Rupanya, penjualan tiga ekor ini memberi keuntungan lumayan, sehingga terpikir olehnya untuk meneruskan usaha jual beli domba.
Akhirnya, pada 1993, Bunyamin mendirikan Tawakkal Farm. Untuk tempat pemeliharaannya Bunyamin membeli lahan secara mencicil, tak jauh dari rumahnya yang kini dijadikan kandang sekaligus tempat tinggal 20 orang karyawannya.
Namun di tengah keberhasilan itu, Bunyamin sebenarnya memiliki trauma dalam usaha peternakan. Kisahnya terjadi antara tahun 1982 hingga1987, ayah seorang putera membuka usaha ayam potong. Jumlah ayam potongnya saat itu mencapai 110 ribu ekor. Hingga 1985 usahanya itu terbilang sukses, sehingga Bunyamin berhasil membeli dua truk dan sebuah kendaraan pick-up untuk keperluan angkutan ternak dan lainnya.
Tapi, tatkala memasuki 1986, harga pakan ayam mulai naik, sementara harga jual ayam potong di pasar setiap kali panen justeru anjlok. Akibatnya, biaya produksi tidak tertutupi oleh penghasilan. Pada saat yang sama dia juga harus bersaing dengan pengusaha ayam potong kelas konglomerat yang memiliki peralatan dan modal kuat. "Akhirnya saya bangkrut," cerita Bunyamin mengenai masa lalunya itu. Dua buah truk dan seluruh angkutan, serta semua peralatan peternakan ludes dijual.Bunyamin menyebut kejatuhan atau kebangkrutan itu dengan sebutan "dipatok ayam".
Masih beruntung saat itu Bunyamin tidak punya utang. Sementara ada kawan-kawannya sesama peternak ayam potong lebih tragis lagi. Menurut cerita Bunyamin, ada peternak ayam potong mati mendadak karena kaget, dan ada pula yang harus menjual rumah tinggalnya, dan pindah ke gubuk yang sebelumnya digunakan untuk beternak ayam.
Pengalaman menyakitkan itu membuat Bunyamin makin awas dalam memilih jenis ternak untuk usaha. Dia pun kemudian memilih usaha penggemukan domba. Karena, dia yakin, domba akan memberinya keberuntungan. "Sebab harganya stabil," katanya optimistis. Mudah-mudahan.Bila Musim Haji Tiba
Lebaran haji adalah masa panen buat pengusaha peternakan domba, seperti Bunyamin. Sebab, pada Hari Raya Kurban itu seluruh isi kandangnya akan terjual habis. Bahkan, 20 hari menjelang lebaran haji, seluruh dombanya sudah bukan milik dia lagi alias sudah dipesan orang. Malahan, ketika Tani Merdeka berkunjung ke peternakanya tiga minggu menjelang puasa, ada 563 domba yang sudah dipesan untuk kebutuhan Idul Adha. Itu berarti setengah dari isi kandangnya, sudah dipastikan berpindah tangan ke konsumen.
Para pemesan itu tak lain para pelanggan tetap Bunyamin. Mareka adalah para pedagang domba dan kambing asal Jakarta. Juga, mesjid-mesjid atau institusi yang sudah terbiasa memesan domba kurban kepadanya, seperti Kawasan Berikat Nusantara (KBN) di Jakarta Utara yang sudah empat tahun berlangganana domba Bunyamin. Tidak ketinggalan Keluarga Cendana, setiap kurban memesan 200 ekor darinya.
Bunyamin memang bukan satu-satunya pemilik usaha penggemukkan domba untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Dan, Bunyamin mengaku tak mungkin bisa memenuhi kebutuhan pasar yang demikian besar. "Setiap lebaran haji, saya masih kekurangan 12 mobil boks domba," katanya. Setiap mobil box berisi 40 ekor domba. Artinya, untuk memenuhi kebutuhan itu para konsumen harus mencari ke usaha peternakan lain. Nah, untuk mengantisipasi permintaan pasar yang terus menanjak, Bunyamin akhirnya harus bekerjasama dengan orang lain. Salah satu diantaranya, seorang pejabat polisi yang kini sedang berdinas di Sulawsi Utara. Polisi yang pernah dinas di Bogor ini menitipkan ratusan domba kepada Bunyamin untuk dipelihara. Bila musim haji tiba, Bunyamin pun ikut membantu menjualkannya.
Sebagai pengusaha peternakan yang sukses kini Bunyamin punya obsesi untuk menjadikan Desa Cimande sebagai sentra domba terbesar di Jawa Barat. Dia sudah mulai melangkah kearah itu. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memberi kesempatan warga memelihara enam ekor domba. Bila sudah cukup umur, lima domba diambil oleh Bunyamin, dan satu ekor lagi menjadi milik warga. "Mereka boleh memilih domba yang mereka sukai, " ujar Bunyamin. Ini namanya usaha untuk kemajuan bersama.

Sumber: dombagarut.blogspot.com

Selasa, 31 Januari 2012

Gagal Kuliah, Jadilah Entrepreneur

"Mulailah berwirausaha justru di saat kita tidak punya apa-apa" Purdi E. Chandra
 
Waktu kuliah dulu saya punya teman yang pandai dan memiliki wawasan dunia bisnis yang lumayan. Ide-ide rencana usaha yang muncul dari pemikirannya sangat cemerlang. Selalu saja, ide-ide itu adalah ide bisnis yang menarik, prospektif, dan berpeluang besar untuk digarap. Semua teman kuliah berdecak kagum dengan lontaran ide-idenya.
 
Tetapi ide-ide itu tinggal ide saja. Sampai hari ini belum ada satu pun bisnis yang pernah dijalankannya. Malahan, terakhir saya ketemu dia, berstatus karyawan sebuah perusahaan publik di Jakarta. Dia memang terlalu pandai untuk merencanakan sebuah usaha sekaligus terlalu takut untuk memulai.

Ada juga mahasiswa yang pernah datang pada saya. Dia menyatakan ingin berwirausaha, kemudian dia mengatakan, bahwa dirinya belum punya modal dan tidak begitu pandai. Saya katakan pada dia: “Kebetulan!” Kemudian saya katakan lagi: “Jangan takut, karena modal utama untuk memulai bisnis adalah keberanian.”
 
Mengapa saya katakan seperti itu? Sebab, biasanya kalau terlalu pinter itu malah terlalu berhitung. Orang yang tahu banyak hal, maka dia akan tahu banyak risiko dan halangan di depannya. Hal itu menurut saya justru akan menciutkan nyalinya.
 
Saya malah pernah bilang pada seorang sarjana yang ingin berwirausaha. Saya katakan: “Sekarang, abaikan ijazahmu. Buatlah dirimu seolah-olah tidak punya apa-apa, kecuali semangat dan keinginan yang kuat.”

Saya teruskan: “Mulailah berwirausaha justru pada saat Anda tidak punya apa-apa. Saat Anda merasa tertekan. Saat Anda tidak dapat berbuat apa-apa dengan ijazah Anda. Saat Anda kebingungan karena harus bayar kredit rumah. Atau pada saat Anda merasa terhina.”
 
Memang nasehat saya ini agak berbeda dengan kebanyakan orang. Biasanya orang menyarankan, kalau mau usaha sebaiknya mengumpulkan modal dulu, kemudian cari tempat dan seterusnya. Tetapi, banyak orang sukses sebagai wirausahawan justru dimulai dari sebaliknya, hanya punya semangat dan tidak punya apa-apa. Kondisi yang ada memaksa mereka harus “bermimpi” tentang masa depannya, kemudian tertantang untuk menggapainya, dan berusaha keras untuk mewujudkannya.
 
Anda tentu tahu atau paling tidak pernah mendengar nama Steve Jobs. sebelumnya dia bukan siapa-siapa. Jobs hanyalah anak muda yang gemar bercelana jeans belel dan berkantong kempes. Belakangan, dia membuat Apple Computer di garasi rumahnya, dan mendirikan perusahaan yang masuk Fortune 500 lebih cepat dari siapapun sepanjang sejarah.
 
Jobs adalah contoh orang yang berhasil dalam berwirausaha, justru bukan karena kepandaiannya di bangku kuliah. Tapi, karena ia memiliki keberanian dan keyakinan akan usaha yang digelutinya. Dia mampu bertindak merealisasi gagasannya dengan meninggalkan lingkungan kuliah dan teman-temannya yang suka berhura-hura.

 


sumber : http://entrepreneuruniversity.co.id

Sabtu, 28 Januari 2012

Titik Balik Mantan Debitor Kakap (Heppy Trenggono)

Kebangkrutan bisnis alat berat yang menyisakan utang Rp 62 miliar justru menjadi titik balik kebangkitan Heppy Trenggono merintis bisnis baru dengan 12 perusahaan dan 3.000 karyawan. Bagaimana bisa?
Dulu, tiap hari selalu tampak sejumlah lelaki berbadan tegap hilir mudik di kantor PT Balimuda Persada. Wajah-wajah garang itu datang silih berganti ke lokasi perusahaan milik Heppy Trenggono itu beroperasi. Mereka adalah para debt collector yang menagih utang perusahaan alat berat tersebut senilai Rp 62 miliar. “Itu kejadian sekitar enam tahun silam. Jumlah utang saya melebihi aset perusahaan,” ujar Heppy tentang masa sulitnya tahun 2005. Kini, Heppy adalah bos Grup Balimuda yang membawahkan 12 anak perusahaan dengan 3.000 pegawai.
Diakui Heppy, kegagalannya saat itu berawal dari ambisi ingin kelihatan sukses. Untuk mencapai mimpinya, pria kelahiran 20 April 1967 ini nekat melakukan sesuatu di luar kemampuan: ekspansi besar-besaran tanpa kalkulasi bisnis dan prospeknya. Keberanian ini dipicu oleh kondisi bisnis Balimuda yang berkembang terlalu cepat dibandingkan rata-rata perusahaan lain. Pihaknya berani menyanggupi pekerjaan yang nyatanya tidak mampu digarap dan nilai proyeknya melampaui kapasitas finansial perusahaan.
Cepat membesar, cepat terkapar. Kalimat itu cocok menggambarkan betapa rentannya bisnis Balimuda yang dibesut Heppy pada 2002. Dia terpincut terjun ke bisnis alat berat lantaran ingin mengikuti jejak sang kakak yang lebih dulu sukses. Maka, sembilan tahun lalu Heppy yang kala itu masih menjabat Direktur Teknik Lativi mengibarkan bendera PT Balimuda Persada. Baginya, dunia alat berat bukan hal asing. Apalagi, dia pernah bekerja sebagai Programmer Analyst di PT United Tractors selama lima tahun. Dengan pengalamannya itulah, dia berani memutuskan bekerja sambil berwirausaha.
Mula-mula Balimuda menangani proyek pembukaan lahan (land clearing) perkebunan sawit, yaitu menjadi subkontraktor beberapa perusahaan, seperti Pradiksi dari Malaysia. Adapun proyek pertama bukan-subkontraktor adalah proyek dari Gudang Garam yang ingin membuka lahan di Kalimantan Timur pada akhir 2002. Proyek itu didapat dengan susah payah. Kebetulan, intuisi bisnis Heppy tajam, sehingga dia mampu mencium peluang dari perusahaan rokok itu yang hendak buka lahan sawit. Dia pun jemput bola dengan mendatangi kantor Gudang Garam dari pagi hingga sore.
Untuk menjalankan proyek Balimuda kala itu, tidak dibutuhkan dana besar. Dia hanya memutar uang untuk menggarap proyek dari klien. Pasalnya, lulusan Manajemen Informatika dari Universitas Gunadarma ini sudah mendapatkan kredit usaha dari Bank Niaga sebesar 80% dari total nilai proyek. Sementara untuk pengadaan alat berat, dia mencicil dari United Tractors. Uang muka 20%, sisanya diangsur selama 12 bulan. Begitu seterusnya, sampai suatu ketika Heppy yakin untuk serius menggeluti bisnisnya dan meninggalkan kursi empuk di Lativi (kini TV One).
Ya, Dewi Fortuna masih berpihak pada Heppy. Nama Balimuda kian melambung dan banyak perusahaan yang meliriknya. Celakanya, “Di situlah agaknya awal kehancuran bisnis saya,” katanya mengenang dengan raut wajah sedih. Waktu itu, dia betul-betul terlena dengan pinjaman usaha dan tak mampu mengontrol diri. Ekspansinya kebablasan dengan menambah banyak alat berat, sehingga dia tidak mampu bayar utang. Bahkan, semua hartanya terkuras habis. Karyawan sebanyak 400 orang pun bubar, sebelum dilakukan pemecatan. “Mereka (karyawan) pergi membawa aset perusahaan yang ada,” ucap anak ke-3 dari 8 bersaudara ini. Dia mengaku tidak bisa berbuat apa-apa lantaran tak mampu menggaji pegawainya. Yang bisa dia lakukan saat itu cuma memohon perpanjangn tempo pembayaran utang kepada para kreditor.
Heppy mengaku memetik pelajaran berharga dari pengalaman buruknya. “Saya mulai sadar bahwa nafsu untuk kelihatan sukses justru akan membuat diri sendiri terpuruk,” ungkap ayah empat anak ini. Pascajatuh, Heppy tidak berlarut-larut meratapi diri. Berawal dari kebangkrutan, dia ingin membuktikan bisa bangkit dan melesat kembali.
Lantas, apa yang dia lakukan?
Langkah pertama yang diayunnya adalah mengubah haluan bisnis. Dia kapok menggumuli bisnis alat berat. Nah, agar tetap bisa menghidupi keluarganya, Heppy tidak malu menjadi broker bagi perusahaan yang akan terjun ke bisnis kelapa sawit. “Sebab, pekerjaan inilah yang paling memungkinkan dan risikonya kecil,” ujar pengusaha yang juga dikenal sebagai ustadz ini.
Saat menjadi broker, Heppy mengandalkan jaringan lama yang masih percaya pada dirinya. Dia juga memperluas pergaulan hingga ke mancanegara. Sebagai perantara, tugasnya hanya mencarikan lahan sawit bagi investor. Atau, mempertemukan investor dan pengusaha yang bergerak di bidang sawit. Perlahan tetapi pasti, Heppy mampu membeli lahan sawit sembari melunasi tumpukan utangnya.
Tidak hanya itu, siapa sangka kini Heppy bersama mitra bisnisnya sudah memiliki 80 ribu hektare lahan kelapa sawit yang tersebar di beberapa daerah di Kal-Tim dan Sumatera. Tidak tanggung-tanggung, total investasinya hingga sekarang Rp 4 triliun.
Makin lama bisnis broker kelapa sawit Heppy kian bersinar. Lelaki asal Desa Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, ini mendapat banyak mitra dari investor asing. Saat ini, Balimuda bersinergi bisnis dengan IGM Corp, Bless Resource, plus NBC. “Sebenarnya, masih banyak lagi,” katanya tanpa merinci nama perusahaan yang menaungi kerja sama itu. Yang jelas, anak perusahaan perkebunan itu antara lain PT Sinergi Agro Industri, PT Indonesia Plantation Synergi, PT Prima Alumga, PT Borneo Indo Subur, PT Prasetia Utama dan PT Buana Mudantara.
Heppy mengaku, model bisnis kelapa sawitnya belum sampai ke tahap pengolahan. Malah, boleh dibilang, tidak sampai ke tahap panen. Kegiatan bisnisnya cenderung membeli lahan, baik yang masih kosong, siap tanam, maupun sudah ditanami. Kemudian, lahan tersebut dia kelola melalui berbagai anak perusahaan. Setelah itu, lahan dijual lagi pada umur tertentu. Nah, profit didapat dari selisih harga jual tersebut. “Kalau lahan sawit itu, makin tua kian mahal. Apalagi, jika bibitnya bagus, sehingga umur tiga tahun bisa memetik hasilnya,” kata Heppy yang enggan membeberkan omsetnya. Yang pasti, bisnis perkebunan itu memberi kontribusi pendapatan terbesar di Grup Balimuda.
Tidak puas hanya menggenggam bisnis perkebunan, selanjutnya bidang produk konsumer pun disergap Heppy. Bisnis baru ini dipayungi Heppyfoods yang membawahkan PT Balimuda Food dan PT Industri Pangan Indonesia yang didirikan tahun 2006. Meski belum setenar perusahaan produk konsumer besar, produk Heppyfoods yang pabriknya berada di BSD City Tangerang mampu menyeruak di pasaran. Salah satu produknya adalah bubur instan berbahan kentang dengan merek Potayo. Dia mengklaim, produk ini menjadi pionir dan pemimpin pasar. Betul, secara brand awareness, Potayo belum terkenal karena Heppy sengaja tidak membuka jalur promosi, apalagi beriklan di media massa. Pasalnya, strategi penjualan yang dilancarkan langsung ke end user.
Kendati demikian, jangan anggap enteng distribusi Potayo. Heppy justru langsung mengambil jalur modern channel seperti Carrefour dan Hero. Jadi, meski iklannya belum nongol di televisi, produk Potayo sudah menyebar ke seluruh wilayah Indonesia. Selain Potayo, belakangan dia juga memproduksi health coffee dengan merek Cordova. Produk anyar ini baru dirilis ke pasar dengan menyasar konsumen langsung, alias belum memakai jalur distributor.
Handito Hadi Joewono memberikan aplaus terhadap inovasi Potayo. “Heppyfoods punya peluang menjadi penguasa di pasar yang diciptakannya tersebut. Tapi, kalau tidak mau promosi gara-gara takut persaingan, itu berbahaya. Sebab, justru persaingan inilah potensi untuk tumbuh besar. Kuncinya, grow or die. Kalau tidak mau persaingan, justru nanti mati sendiri,” kata Chief Strategy Consultant & President Arrbey itu. Menurutnya, jangan takut membangunkan macan tidur. Kalau tidak, malah bisnisnya akan kecil terus. Nah, untuk mengantisipasinya, dia menyarankan strategi menahan pertumbuhan kompetitor dengan menguasai daerah-daerah tertentu, jadi bukan head-on.
Sekarang, di bawah United Balimuda Corp ada 12 perusahaan milik Heppy. Ini adalah buah dari kerja keras dan kegigihannya dalam berbisnis. Heppy sudah mandiri sejak ibunya wafat saat dia masih duduk di kelas III SD.
Aswandi As’an juga tidak meragukan sikap pantang menyerah bosnya. ”Beliau tidak ambisius, tetapi mampu mengerjakan apa yang ada dengan banyak relasi di dalam dan luar negeri,” kata staf Hubungan Eksternal United Balimuda Corp itu.
Heppy mempekerjakan lebih dari 3.000 orang dengan sistem kekeluargaan. Dia cenderung ingin membangun karakter karyawan ketimbang menerapkan target yang muluk-muluk. “Memang target itu penting. Tapi, saya tidak pernah marah jika target tidak tercapai,” kata Presiden Direktur United Balimuda Corp ini tentang alasan sistem pengelolaan karyawannya. Yang bisa menyulut kemarahan Heppy justru ketika karyawan tidak bisa menerapkan falsafah “Inspiring and giving the world”. Prinsip inilah yang terus ditanamkan pada karyawan Balimuda. Dan perwujudannya, membentuk karyawan yang berkarakter dan berintegritas tinggi.
Gaya leadership Heppy adalah keteladanan. Dia ingin menunjukkan bagaimana hidup secara benar kepada bawahan. Misalnya, soal kejujuran, dia selalu terbuka soal pengeluaran perusahaan. Ini dimaksudkan agar karyawan tidak berlaku culas ketika diberi tanggung jawab. Contoh lain? Untuk mewujudkan perusahaan yang menginspirasi, secara berkala dia melibatkan masyarakat sekitar kantor yang berada di Jl. Mampang Prapatan XIV/99, Jakarta Selatan, untuk beraktivitas. Heppy pun tiap hari memberikan sarapan kepada kaum dhuafa di sekitar rumahnya di Jl. Mampang Prapatan X. “Kita jangan sejahtera sendirian, tapi juga lingkungan sekitar,” ujar Heppy tentang sikap filantropinya. Untuk memberi contoh kehidupan berkeluarga, tak jarang anak-anak Heppy juga diajak menyambangi kantor. Bila umumnya istri pengusaha hanya di rumah, Heppy melibatkan sang istri sebagai Direktur Keuangan.
Keteladanan Heppy dibenarkan oleh karyawannya. Pendapat Edi Cahyanto setidaknya menguatkan hal itu. “Saya seperti mendapatkan sosok guru pada diri Pak Heppy,” ucap Penyelia Produksi PT Industri Pangan Indonesia itu. Jadi, hubungannya dengan Heppy bukanlah antara atasan dan bawahan, melainkan antara guru dan murid. Nilai moral yang diajarkan Heppy dan sangat melekat di hati karyawan adalah tradisi untuk menyisihkan 10% penghasilan buat kegiatan amal. Heppy juga dinilainya jago memilih karyawan untuk menduduki posisi terentu. “Bagi Pak Heppy, orang pintar itu banyak. Tapi orang yang mau dididik itu sedikit,” kata Edi. Dia mencontohkan, dirinya sendiri yang tidak tahu apa-apa soal produksi justru diserahi posisi supervisor. Hebatnya, Heppy bersedia mengajari secara langsung anak buah yang ingin belajar sungguh-sungguh. Kelebihan lain sosok Heppy? “Orangnya sederhana, bahkan sering menyetir sendiri mobilnya,” Aswandi menambahkan.
Nah, seiring dengan semangat menginspirasi, Heppy juga membentuk komunitas Indonesian Islamic Business Forum. Ini merupakan komunitas yang beranggotakan pengusaha dan calon pengusaha. Kegiatannya, mulai dari berbagi pengalaman hingga pendampingan bisnis para anggota. Belakangan, Heppy juga menggagas lahirnya gerakan Beli Indonesia yang dicetuskan pada 27 Februari 2011 bersama 504 pengusaha dari 42 kota di Indonesia. Beli Indonesia adalah gerakan membangun karakter bangsa yang membela bangsanya sendiri, yaitu sikap untuk membeli produk bukan dengan alasan lebih baik atau lebih murah, tetapi karena milik bangsa sendiri. Pasalnya, dia prihatin dengan kondisi perekonomian Indonesia yang justru banyak dijajah produk asing. “Semua itu saya lakukan untuk memberi manfaat bagi orang banyak. Karena, saya hanya ingin hidup tenang tanpa dikejar-kejar nafsu untuk memperkaya diri,” kata pengusaha yang hampir selalu pulang kampung dengan helikopter sewaan ini. (*)

Sumber:  http://swa.co.id/2011/06/titik-balik-mantan-debitor-kakap/

Rabu, 25 Januari 2012

Mental Wirausaha



Banyak orang merasa sudah memiliki mental wirausaha saat mereka sudah memiliki usaha atau menjalankan bisnis sendiri. Padahal mental wirausaha tidak selalu berhubungan dengan punya usaha atau tidak punya usaha. Seorang karyawan pun bisa memiliki mental wirausaha.
Apabila Anda punya usaha tetapi selama bertahun-tahun Anda masih terjebak mengerjakan pekerjaan teknis operasional berarti Anda tidak memiliki mental wirausaha. Seorang yang punya usaha restoran tapi dia terjebak mengolah masakan dan mengerjakan urusan dapur sendirian ia tak memiliki mental wirausaha. Seseorang yang membuat agar usahanya sangat tergantung dengan keberadaannya, ia tidak memiliki mental wirausaha.
Lantas seperti apa orang yang memiliki mental wirausaha? Banyak cirinya, saya sampaikan beberapa diantaranya. Pertama, ia membangun tim yang solid.  Seseorang yang bermental wirausaha tidak akan tergoda untuk menokohkan dirinya. Ia lebih memprioritaskan kerja tim yang didukung dengan sistem yang kuat. Perusahaan harus tetap jalan tanpa kehadirannya.
Tengoklah pengusaha-pengusaha besar, usaha mereka tetap berkibar walau mereka tinggal untuk keliling dunia. Bukan hanya itu, sepulang dari keliling dunia biasanya ada bisnis baru yang ia bawa untuk dikembangkan. Ia akan membentuk tim dan sistem lagi untuk mengembangkan bisnis barunya itu. Bisnisnya terus tumbuh membesar dan melebar.

Kedua, ia pro aktif membangun kekuatan dan jaringan. Seseorang yang bermental wirausaha tidak ingin maju sendirian. Secara pro aktif ia akan terus berkolaborasi dengan orang orang yang memiliki visi dan misi yang seirama. Bisnisnya kuat karena mereka saling menguatkan satu dengan yang lain. Setiap membangun kerjasama mereka ingin selalu win-win solution, saling menguntungkan bukan “yang penting saya untung”.
Ketiga, ia mudah beradaptasi dengan perubahan. Orang-orang yang bermental wirausaha tidak kaku dengan ide dan gagasannya. Mereka cepat mengikuti perubahan zaman, cepat membaca selera pasar dan kemudian memanfaatkannya untuk kemajuan bisnisnya.
Baca dan pelajarilah perusahaan-perusahaan yang mampu bertahan ratusan tahun. Mereka semua dikelola oleh orang-orang yang bermental wirausaha. Bisnisnya tidak hanya bertahan pada satu generasi tetapi bisa diwariskan kepada anak cucunya.

Nah, bagi Anda yang sudah berbisnis lebih dari 5 tahun, tolong jawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini.  Apakah sudah punya tim yang solid? Apakah jaringan yang mendukung bisnis Anda terus bertambah? Apakah produk dan jasa Anda memang sangat diminati pasar? Bila semua jawabannya belum/tidak, patut diragukan Anda memiliki mental wirausaha.

sumber : www.jamilazzaini.com

Minggu, 22 Januari 2012

Peluang Bisnis Makanan ala Gerobak

bisnis makanan ala gerobak1 200x167 Peluang Bisnis Makanan ala Gerobak Menekuni berbagai peluang bisnis di bidang makanan memang menjanjikan untung besar bagi para pelakunya. Terbukti tidak hanya pengusaha bermodal besar saja yang mulai berlomba menekuni bisnis makanan, namun para pengusaha bermodal minim pun juga memiliki minat yang kuat untuk meraup keuntungan dari peluang bisnis ini. Dan salah satu alternatif yang saat ini banyak dijalankan para pengusaha yaitu peluang bisnis makanan ala gerobak.
Konsumen
Yang menjadi sasaran bisnis makanan ala gerobak ini rata-rata adalah masyarakat dari kalangan menengah kebawah. Hal ini dikarenakan harga makanan yang ditawarkan biasanya jauh lebih murah dari makanan yang ada di restoran atau rumah makan pada umumnya.
Info bisnis
Seperti halnya bisnis lainnya yang membutuhkan modal besar, bisnis makanan ala gerobak juga membutuhkan beberapa persiapan sebelum memulai usaha. Persiapan yang perlu diperhatikan antara lain sebagai berikut :
  1. Pilih menu makanan yang memang cocok ditawarkan dengan menggunakan gerobak. Seperti siomay,bakso, mie ayam, soto, ketoprak, nasi goreng, empek-empek, bubur ayam, sate ayam, serta masih banyak lagi lainnya. Agar menarik konsumen, tawarkan sesuatu yang khas atau unik pada produk Anda.
  2. Mengumpulkan berbagai informasi yang berhubungan dengan ide bisnis yang akan Anda jalankan. Misalnya mencari informasi tentang resep cara pembuatan makanan, jumlah modal yang dibutuhkan, harga produk yang ada di pasaran, besarnya persaingan pasar, dll.
  3. Mempersiapkan peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk modal usaha. Untuk menjalankan usaha makanan dengan gerobak, peralatan yang paling penting adalah gerobak yang menarik, alat masak (kompor/tungku, wajan, atau panci), serta alat makan (piring/mangkok, gelas, sendok dan garpu).
  4. Memilih lokasi usaha yang strategis. Walaupun bisnis makanan ala gerobak tidak membutuhkan tempat usaha yang permanen, namun sebaiknya Anda menentukan lokasi mana saja yang akan Anda lewati. Misalnya seperti di kawasan pemukiman padat penduduk, sekolah, kampus, perkantoran, pasar, serta tempat ramai lainnya asalkan tidak mengganggu ketertiban.
  5. Rasa dan penyajian produk yang baik. Agar cita rasa makanan yang Anda tawarkan terjamin kualitasnya, hal yang paling penting adalah memilih bahan baku yang benar-benar segar. Usahakan untuk belanja bahan baku setiap hari, sehingga bahan yang digunakan kondisinya masih bagus.
sumber : bisnisukm.com

Senin, 16 Januari 2012

Hendy Setiono, Presiden Direktur Kebab Turki Baba Rafi



Menjadi Milyarder Di Usia Muda

Satu lagi anak muda Surabaya menorehkan prestasi besar. Dia adalah Hendy Setiono, presiden direktur Kebab Turki Baba Rafi. Prestasinya tidak hanya diakui di dalam negeri, tapi juga di mancanegara. Mengapa?
Wajah dan penampilannya masih layaknya anak muda. Siang itu, dia berkemeja batik cokelat dipadu celana hitam. Cukup sederhana. Tak tecermin tampang seorang bos dari perusahaan beromzet lebih dari Rp 1 miliar per bulan.
Itulah penampilan sehari-hari Hendy Setiono, Presdir Kebab Turki Baba Rafi Surabaya. Oleh majalah Tempo edisi akhir 2006, dia dinobatkan sebagai salah seorang di antara sepuluh tokoh pilihan yang dinilai mengubah Indonesia. Tentu, sebuah pengakuan yang membanggakan bagi Hendy. Apalagi, bisnis yang dia geluti tergolong bisnis yang tak akrab di telinga. Usianya pun masih 23 tahun! Wow, masih sangat muda untuk seorang bos yang memiliki 100 outlet di 16 kota di Indonesia.

Dengan ramah, pria kelahiran Surabaya, 30 Maret 1983, tersebut mempersilakan Jawa Pos masuk ke kantornya di Ruko Manyar Garden Regency, kawasan Nginden Semolo. “Biasanya saya masuk kantor agak siang. Tapi, karena hari ini ada janji dengan Anda, saya agak meruput datang ke kantor,” ujar Hendy mengawali perbincangan.
Ketika itu, jarum jam sudah menunjuk pukul 11.00. Bagi Hendy, pukul 11.00 masih terbilang pagi karena biasanya dirinya baru masuk kantor lebih dari pukul 12.00.
Dia lalu menceritakan awal mula bisnis kebab yang digelutinya tersebut. Kebab adalah makanan khas Timur Tengah (Timteng) yang dibuat dari daging sapi panggang, diracik dengan sayuran segar, dan dibumbui mayonaise, lalu digulung dengan tortila. Sebenarnya, kebab banyak beredar di Qatar dan negara Timteng lainnya.
Namun, kata Hendy, kebab paling enak adalah dari Istambul, Turki. Karena itu, dia menggunakan “trade mark” Turki untuk menarik calon pelanggan.
Hendy mengisahkan, pada Mei 2003, dirinya mengunjungi ayahnya yang bertugas di perusahaan minyak di Qatar. Selama di negeri yang baru sukses melaksanakan Asian Games itu, dia banyak menemui kedai kebab yang dijubeli warga setempat. Lantaran penasaran, Hendy yang mengaku hobi makan itu lantas mencoba makanan yang lezat bila dimakan dalam kondisi masih panas tersebut. “Ternyata, rasanya sangat enak. Saya tak menduga rasanya seperti itu,” ungkap sulung dua bersaudara pasangan Ir H Bambang Sudiono dan Endah Setijowati tersebut.
Tak hanya perutnya kenyang, saat itu di benak Hendy langsung terbersit pikiran untuk membuka usaha kebab di Indonesia. Alasannya, selain belum banyak usaha semacam itu, di Indonesia terdapat warga keturunan Timteng yang menyebar di berbagai kota.
“Orang Indonesia juga banyak yang naik haji atau umrah. Biasanya, mereka pernah merasakan kebab di Makkah atau Madinah. Nah, mereka bisa bernostalgia makan kebab cukup di outlet saya,” jelasnya.
“Makanya, selama di Qatar, saya juga memanfaatkan waktu untuk berburu resep kebab. Saya mencarinya di kedai kebab yang paling ramai pengunjungnya,” jelas Hendy yang beristri Nilamsari, 23, dan kini sudah dikaruniai dua anak, Rafi Darmawan, 3, dan Reva Audrey Zahifa, 2, tersebut.
Begitu tiba kembali di Surabaya, dia langsung menyusun strategi bisnis. Yang pertama dilakukan adalah mencari partner. Dia tidak ingin usahanya asal-asalan. Dia kemudian bertemu Hasan Baraja, kawan bisnisnya yang kebetulan juga senang kuliner. Awalnya, mereka sengaja melakukan trial and error untuk menjajaki peluang bisnis serta pangsa pasarnya.
“Ternyata, resep kebab dari Qatar yang rasa kapulaga dan cengkehnya cukup kuat tidak begitu disukai konsumen. Ukurannya pun terlalu besar. Makanya, kami memodifikasi rasa dan ukuran yang pas supaya lebih familier dengan orang Indonesia,” katanya.
September 2003, gerobak jualan kebab pertamanya mulai beroperasi. Tepatnya di salah satu pojok Jalan Nginden Semolo, berdekatan dengan area kampus dan tempat tinggalnya.
Mengapa gerobak? Hendy mempunyai alasan. “Membuat gerobak lebih murah daripada membuat kedai permanen. Tidak perlu banyak modal. Gerobak pun fleksibel, bisa dipindah-pindah,” ujarnya.
Soal nama kedainya Baba Rafi, dia mengaku terinspirasi nama anak pertamanya, Rafi Darmawan. “Diberi nama Kebab Pak Hendy kok tidak komersial,” katanya lalu tergelak.
Saat itulah terlintas di benaknya nama si sulung, Rafi. “Kalau dipikir-pikir, pakai nama Baba Rafi, lucu juga rasanya. Baba kan berarti bapak, jadi Baba Rafi berarti bapaknya Rafi.”
Mengawali sebuah bisnis memang tidak mudah. Apalagi untuk meraih sukses seperti sekarang. Suka duka pun dirasakan calon bapak tiga anak itu. “Misalnya, uang berjualan dibawa lari karyawan. Banyak karyawan yang keluar masuk. Baru beberapa minggu bekerja sudah minta keluar,” ungkapnya.
Bahkan, pernah suatu hari, karena tak mempunyai karyawan, Hendy dan istri berjualan. Hari itu kebetulan hujan. Tak banyak orang membeli kebab. Makanya, pemasukan pun sedikit. “Uang hasil berjualan hari itu digunakan membeli makan di warung seafood saja tak cukup. Wah, itu pengalaman pahit yang selalu kami kenang,” ujarnya.
Tak ingin setengah-setengah dalam menjalankan bisnis, lulusan SMA Negeri 5 Surabaya tersebut akhirnya memutuskan berhenti dari bangku kuliah pada tahun kedua. “Saya OD alias out duluan. Tapi, saya tidak menyesal meninggalkan bangku kuliah untuk membangun usaha,” tegas Hendy yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Teknik Informatika ITS tersebut.
Keputusan dia untuk meninggalkan bangku kuliah guna menekuni bisnis kebab tersebut sempat ditentang orang tuanya. Mereka ingin Hendy menjadi orang kantoran seperti ayahnya. Karena itu, ketika dia meminta bantuan modal, orang tuanya menganggap bisnis yang akan dilakoni tersebut adalah proyek iseng. “Mereka pikir saya tidak serius pada bisnis itu. Dalam hati, saya ingin membuktikan kepada bapak dan ibu bahwa kelak saya pasti berhasil,” jelasnya.
Yang luar biasa, kesuksesan bisnis Hendy tak perlu waktu lama. Hanya dalam 3-4 tahun, dia berhasil mengembangkan sayap di mana-mana. Bahkan, hingga pengujung 2006, pengusaha muda tersebut mencatat telah memiliki 100 outlet Kebab Turki Baba Rafi yang tersebar di 16 kota di Indonesia. Tidak hanya di Jawa, tapi juga di Bali, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan.
Ke depan, Hendy berencana mengembangkan usahanya itu ke luar negeri. Dua negara yang diincar adalah Malaysia dan Thailand. “TV BBC London dan majalah Business Week International pernah meliput usaha saya tersebut. Setelah itu, ada orang yang menawari saya membuka outlet di Trinidad & Tobago serta Kamboja,” jelasnya.
Sukses bisnis kebab waralaba Hendy itu juga menghasilkan berbagai award, baik dari dalam maupun luar negeri. Di antaranya, ISMBEA (Indonesian Small Medium Business Entrepreneur Award) 2006 yang diberikan menteri koperasi dan UKM. Hendy juga ditahbiskan sebagai ASIA’s Best Entrepreneur Under 25 oleh majalah Business Week International 2006. Untuk meraih award tersebut, dia bersaing dengan 20 kandidat pengusaha lain dari berbagai negara di Asia.
Pria kalem itu juga mendapatkan penghargaan Citra Pengusaha Berprestasi Indonesia Abad Ke-21 yang dianugerahkan Profesi Indonesia. Kemudian, penghargaan Enterprise 50 dari majalah SWA untuk 50 perusahaan yang berkembang dalam setahun terakhir. Serta, di pengujung 2006, majalah Tempo menobatkan Hendy menjadi salah seorang di antara sepuluh tokoh pilihan yang mengubah Indonesia.
Apa yang akan dilakukan Hendy selain mengembangkan usahanya ke mancanegara? Tampaknya, dia ingin seperti raja komputer, Bill Gates. “Saya belajar dari para pengusaha sukses. Salah satunya, Bill Gates. Dia bisa mendirikan kerajaan Microsoft, meski tidak tamat sekolah. Jadi, intinya, untuk menjadi orang sukses, tidak harus memiliki gelar akademis dan indeks prestasi (IP) tinggi,” tegasnya lalu tertawa.
Sumber : Jawa Pos

Senin, 04 April 2011

Membangun Merk

PDFPrintE-mail

Membangun merek (merk) atau brand image adalah salah satu strategi menjual yang dianggap prestisius dan sangat efektif. Mengapa menciptakan dan membangun merek begitu penting? Karena selain sebagai identitas produk, brand juga akan menumbuhkan loyalitas konsumen. Biasanya bila seseorang sudah cocok dan akrab dengan suatu brand, dia tidak akan mudah berpaling pada brand lain. Selain itu, bagi sebagian orang, brand juga seringkali dianggap sebagai identitas dirinya.

Logo Merek sebagai Brand ImageNamun, kecocokan identitas (Merek/Logo) tentu tak hanya berasal dari nama, tetapi juga kualitas produk, pelayanan yang memuaskan, dan harga yangreasonable. Semakin banyak konsumen yang merasa puas dengan kualitas produk, maka semakin tinggi nilai jual sebuah brand.

Gunakan Logo sebagai Brand Image.
Ciptakanlah sebuah logo visual yang sesuai dengan produk dan brand produk Anda. Logo ini dapat membantu brand yang Anda ciptakan terkesan lebih mewah dan istimewa. Dengan logo, Anda dapat membentuk sebuah komunikasi melalui tanda yang mudah dimengerti dan diingat oleh setiap orang tanpa batasan bahasa. Inilah yang nantinya akan menjadi identitas produk Anda.

Simpel dan Bermakna
Berdasarkan salah satu hasil survei marketing, masyarakat berusia muda cenderung lebih memilih menggunakan produk dengan nama brand asing atau pun yang terkesan asing. Namun, tak berarti nama-nama yang terkesan lokal juga tak dilirik, lho. Terpenting, pilihlah nama yang simpel, agar mudah diucapkan dan diingat. Selain itu, ada baiknya memilih nama brand yang memiliki arti tertentu. Bila tak ingin repot, Anda juga bisa menggunakan nama Anda menjadi nama brand, seperti yang dilakukan brand-brand ternama, seperti Yves Saint Laurent dan lainnya.

Menyasar Target Market
Hal lain yang tak kalah penting adalah menentukan target market, yakni siapa sasaran utama Anda. Bila Anda memilih target marketmenengah ke atas, tentu image yang mesti dibentuk adalah sebuah produk mewah. Herry Soebhiantoro, Associate Training Facilitator di Lembaga Management FEUI, pada kesempatan Workshop Inspirasi Wirausaha dari majalah Femina di Sari Pan Pacific (18/7), menekankan pentingnya penentuan target sasaran. Seringkali para pelaku usaha kecil menengah (UKM)) bingung menentukan target sasarannya. Seringkali mereka terjebak ingin memuaskan klien yang mewah, sekaligus ingin melayani klien yang ekonomis dengan harga menengah. Padahal, kedua pasar ini sulit digabungkan. Ketika Anda ingin mengejar target pasar kelas atas, Anda harus pasang harga tinggi dengan kualitas sangat baik. Sementara sebaliknya, jika ingin mengejar konsumen yang amat kritis untuk mendapatkan harga murah, maka juallah produk dengan harga murah, namun kualitas bisa diturunkan. Jika Anda berusaha berada di tengah-tengah, ini hanya akan menyusahkan Anda. Si target pasar yang kelas atas, umumnya gengsi untuk membeli barang murah, karena terbiasa dengan brand-brand bermerek. Sementara yang kelas menengah ke bawah, cenderung mencari yang mereknya biasa, asal murah. Tentukan pasar Anda siapa, dari sana akan lebih mudah meneruskan promosi dan nilai tambah produk Anda ketimbang saingan.

Promosi Sesuai Sasaran
Setiap pengusaha tentu ingin produknya menjadi pembicaraan dan dipuji banyak orang. Tetapi, bagaimana bisa dibicarakan bila tak ada yang mengenal produknya? Trik yang selalu digunakan oleh para marketer adalah dengan teknik promosi. Bukan sembarang promosi, melainkan promosi yang tepat sasaran. Pilih orang-orang yang berpengaruh di kelompoknya untuk mengenal produk Anda. Beri dia sampel gratis atau ajak dia mencoba produk Anda. Bila ia menyukainya, dengan mudah produk Anda akan dikenal luas.

Selain itu, Anda pun perlu menggelar event khusus untuk memperkenalkan brand Anda, dengan beberapa tips berikut:

  • Mendompleng ketenaran
    Salah satu cara termudah agar produk Anda segera dilirik konsumen adalah membuat produk Anda digunakan oleh selebriti atau public figure saat acara pesta atau event sosial lainnya. Karena biasanya apa yang dikenakan oleh public figure akan segera menjadi perhatian banyak orang. Di sinilah kesempatan Anda untuk memperkenalkan brand sekaligus membentukbrand image. Ini bahkan akan lebih efektif dari sekadar memajang produk Anda di etalase toko.
  • Pengenalan produk
    Sebagai produk dengan brand baru tentu belum banyak dikenal orang. Pada saat merilis produk tersebut ke pasar, ada baiknya Anda menjelaskan secara detail kepada para calon customer tentang produk tersebut, dari bahan baku, proses pembuatan, hingga manfaatnya. Jangan lupa, paparkan juga keunikan dan keunggulan yang dimiliki brand Anda.
  • Berteman dengan media
    Anda tahu, kan, media memiliki efek sangat besar untuk memengaruhi penilaian masyarakat? Jadi, jangan hanya duduk berdiam diri dan berharap media akan mencari Anda. Kirimkan press release dan contoh produk atau undangan untuk menghadiri peluncuran produk. Bila perlu, Anda juga bisa meminjamkan beberapa produk untuk mendapat review khusus dari media.
  • Pelayanan khusus
    Sebuah brand berkualitas biasanya selalu memiliki customer VIP. Berikan pelayanan khusus, karena mereka inilah yang biasanya menjadi orang pertama yang bersedia membeli produk Anda. Anda bisa menjalin komunikasi dengan cara selalu mengirimkan informasi tentang desain atau produk terbaru Anda. Entah itu dengan kartu member, milis khusus, atau SMS info. Buat mereka merasa dihargai.
  • Bangun sinergi
    Ikutlah program afiliasi atau kerja sama dengan produk atau brand lain. Misal, dengan membeli produk Anda, maka pembeli akan mendapatkan potongan harga untuk produk B dari brand lain. Atau cara lain, bergabunglah dalam event-event besar di kota Anda sebagai sponsor. Makin sering Anda ikut event, maka makin cepat brand Anda dikenal.

Saingan? No Problem
“Persaingan itu diperlukan untuk kita selalu bisa berinovasi dan menguntungkan konsumen,” ujar Herry. Selain itu, persaingan membuat kita dan si pesaing berlomba-lomba memperbaiki kekurangan dari produk atau jasa. Jika Anda menyasar kepada konsumen kelas atas, maka Anda bisa mencoba untuk bermain dan menambahkan di nilai tambah (added value) produk. Nilai tambah ini, jelas Herry, bisa didapat dari tiga hal, yakni lewat content (performa produk), context (presentasi atau kemasan, layanan, desain interior, atau suasana), dan infrastructure (kemudahan akses).

Misal, jika Anda memiliki salon, sementara ada pesaing di lingkungan yang sama, Anda bisa mencoba menambahkan nilai tambah pada suasana atau hadiah kepada pelanggan. Ciptakan suatu keunikan dari produk atau jasa Anda yang tak ada di produk pesaing. Jangan lupa untuk terus mengevaluasi ulang hasil promosi dan branding yang sudah Anda lakukan secara berkala. Perhatikan cara yang Anda lakukan, apakah sudah sesuai target market atau belum, agar brand Anda bisa terus sukses.