Bunyamin biasa menerima para tamu di sebuah kamar sekaligus tempatnya bekerja, yang berada persis di depan kandang domba. Para tamu yang berkunjung ke sana datang dari berbagai kalangan. Mahasiswa jurusan peternakan Universitas Padjajaran dan Institut Pertanian Bogor (IPB) misalnya, sering kali menjadikan peternakan Bunyamin ini sebagai tempat magang. Begitu pula para karyawan yang memasuki masa pensiun, seperti karyawan Bank Indonesia dan BRI, sengaja datang untuk mempelajari cara beternak domba sebagai persiapan usaha bila masa pensiun tiba.
"Tapi saya sendiri tidak
punya ilmunya. Saya hanya tukang angon," kata Bunyamin merendah.
Domba-domba hasil penggemukan Bunyamin memang sudah dikenal, bukan saja
di Bogor tapi hingga ke wilayah Tangerang dan Jakarta. Biasanya
domba-domba itu masuk ke restoran untuk sop atau sate, dan juga untuk
kurban pada hari raya Idul Adha.
Untuk
restoran di kawasan Ciawi hingga Puncak saja, terdapat 32 rumah makan
yang menyediakan sop dan sate kambing. Menurut survei yang dilakukan
Haji Kadir, seorang pemilik rumah makan khusus menyediakan sop dan sate
di Cisarua, untuk kebutuhan seluruh rumah makan di kawasan itu
dibutuhkan 560 ekor domba setiap hari atau 560 ekor dalam seminggu.
Rumah makan milik Haji Kadir saja membutuhkan delapan ekor domba per
hari, dan kalau malam minggu bisa sampai 14 ekor.
"Untuk
memebuhi kebutuhan rumah makan dari pasar Ciawi sampai Puncak saja saya
tidak sanggup. Kesanggupan saya paling hanya dua hari dalam
seminggu,"aku Bunyamin.
Meski sudah 16 tahun menggeluti usaha
penggemukan domba, Bunyamin merasa masih belum pantas disebut sebagai
peternak domba yang sukses. Baginya, peternak yang sukses salah satu
persayaratannya harus sudah punya lahan sendiri, tempat menanam rumput
sebagai makanan utama domba.Untuk saat ini guna memenuhi kebutuhan pakan domba-dombanya, Bunyamin masih harus mencari rumput ke kawasan lain di sekitar Cimande. Tapi, saat musim kemarau lokasi tempat pengambilan rumput semakin jauh, sehingga harus menambah beban transportasi. Setidaknya, dalam sehari, 120 karung rumput harus disediakan untuk semua dombanya, yang diberi makan sebanyak dua kali, pagi dan sore.
Tidak heran bila domba-domba milik
Bunyamin tampak sehat. Bulu-bulu dombanya tidak dibiarkan tumbuh tak
terawat. Ketika domba dari warga yang dibelinya masuk ke peternakan,
harus dicukur biar bersih. Kukunya dipotong secara berkala. Obat cacing
juga rutin diberikan untuk membersihkan isi perutnya. Sebab, menurut
pensiunan pegawai negeri sipil di Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor ini,
hampir semua kambing yang dipelihara warga pasti terkena penyakit
cacing.
Domba yang sehat dan terawat adalah
daya tarik tersendiri bagi konsumen. "Mereka akan merasa puas dengan
domba seperti ini, " kata lelaki kelahiran Cianjur, Jawa Barat, 2 Mei
1956 ini. Apalagi bila melihat domba Garut atau sering disebut domba
tangkas yang khusus untuk domba adu. Harga bibitnya saja bisa mencapai
Rp 3 juta. Di peternakan milik Bunyamin, harga domba Garut ditentukan
oleh "tongkrongannya" . Artinya, kalau penampilannya bagus dan bersih
harga seekor domba Garut bisa mencapai Rp 15 juta.
Keberhasilan
Bunyamin menggeluti usaha penggemukan domba, bermula dari hobi
memelihara domba. Ketika itu pada 1990, Bunyamin memelihara enam ekor
domba di belakang rumahnya. Ketika lebaran haji tiba, dia memotong tiga
ekor dan menjual tiga ekor lainnya. Rupanya, penjualan tiga ekor ini
memberi keuntungan lumayan, sehingga terpikir olehnya untuk meneruskan
usaha jual beli domba.
Akhirnya, pada 1993,
Bunyamin mendirikan Tawakkal Farm. Untuk tempat pemeliharaannya Bunyamin
membeli lahan secara mencicil, tak jauh dari rumahnya yang kini
dijadikan kandang sekaligus tempat tinggal 20 orang karyawannya.
Namun
di tengah keberhasilan itu, Bunyamin sebenarnya memiliki trauma dalam
usaha peternakan. Kisahnya terjadi antara tahun 1982 hingga1987, ayah
seorang putera membuka usaha ayam potong. Jumlah ayam potongnya saat itu
mencapai 110 ribu ekor. Hingga 1985 usahanya itu terbilang sukses,
sehingga Bunyamin berhasil membeli dua truk dan sebuah kendaraan pick-up
untuk keperluan angkutan ternak dan lainnya.
Tapi,
tatkala memasuki 1986, harga pakan ayam mulai naik, sementara harga
jual ayam potong di pasar setiap kali panen justeru anjlok. Akibatnya,
biaya produksi tidak tertutupi oleh penghasilan. Pada saat yang sama dia
juga harus bersaing dengan pengusaha ayam potong kelas konglomerat yang
memiliki peralatan dan modal kuat. "Akhirnya saya bangkrut," cerita
Bunyamin mengenai masa lalunya itu. Dua buah truk dan seluruh angkutan,
serta semua peralatan peternakan ludes dijual.Bunyamin menyebut
kejatuhan atau kebangkrutan itu dengan sebutan "dipatok ayam".
Masih
beruntung saat itu Bunyamin tidak punya utang. Sementara ada
kawan-kawannya sesama peternak ayam potong lebih tragis lagi. Menurut
cerita Bunyamin, ada peternak ayam potong mati mendadak karena kaget,
dan ada pula yang harus menjual rumah tinggalnya, dan pindah ke gubuk
yang sebelumnya digunakan untuk beternak ayam.
Pengalaman
menyakitkan itu membuat Bunyamin makin awas dalam memilih jenis ternak
untuk usaha. Dia pun kemudian memilih usaha penggemukan domba. Karena,
dia yakin, domba akan memberinya keberuntungan. "Sebab harganya stabil,"
katanya optimistis. Mudah-mudahan.Bila Musim Haji Tiba
Lebaran
haji adalah masa panen buat pengusaha peternakan domba, seperti
Bunyamin. Sebab, pada Hari Raya Kurban itu seluruh isi kandangnya akan
terjual habis. Bahkan, 20 hari menjelang lebaran haji, seluruh dombanya
sudah bukan milik dia lagi alias sudah dipesan orang. Malahan, ketika
Tani Merdeka berkunjung ke peternakanya tiga minggu menjelang puasa, ada
563 domba yang sudah dipesan untuk kebutuhan Idul Adha. Itu berarti
setengah dari isi kandangnya, sudah dipastikan berpindah tangan ke
konsumen.
Para pemesan itu tak lain para
pelanggan tetap Bunyamin. Mareka adalah para pedagang domba dan kambing
asal Jakarta. Juga, mesjid-mesjid atau institusi yang sudah terbiasa
memesan domba kurban kepadanya, seperti Kawasan Berikat Nusantara (KBN)
di Jakarta Utara yang sudah empat tahun berlangganana domba Bunyamin.
Tidak ketinggalan Keluarga Cendana, setiap kurban memesan 200 ekor
darinya.
Bunyamin memang bukan satu-satunya
pemilik usaha penggemukkan domba untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Dan,
Bunyamin mengaku tak mungkin bisa memenuhi kebutuhan pasar yang
demikian besar. "Setiap lebaran haji, saya masih kekurangan 12 mobil
boks domba," katanya. Setiap mobil box berisi 40 ekor domba. Artinya,
untuk memenuhi kebutuhan itu para konsumen harus mencari ke usaha
peternakan lain. Nah, untuk mengantisipasi permintaan pasar yang terus
menanjak, Bunyamin akhirnya harus bekerjasama dengan orang lain. Salah
satu diantaranya, seorang pejabat polisi yang kini sedang berdinas di
Sulawsi Utara. Polisi yang pernah dinas di Bogor ini menitipkan ratusan
domba kepada Bunyamin untuk dipelihara. Bila musim haji tiba, Bunyamin
pun ikut membantu menjualkannya.
Sebagai pengusaha peternakan
yang sukses kini Bunyamin punya obsesi untuk menjadikan Desa Cimande
sebagai sentra domba terbesar di Jawa Barat. Dia sudah mulai melangkah
kearah itu. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memberi kesempatan
warga memelihara enam ekor domba. Bila sudah cukup umur, lima domba
diambil oleh Bunyamin, dan satu ekor lagi menjadi milik warga. "Mereka
boleh memilih domba yang mereka sukai, " ujar Bunyamin. Ini namanya
usaha untuk kemajuan bersama. Sumber: dombagarut.blogspot.com